Kisah Unik di balik kehidupan Burung Maleo

Burung Maleo, burung endemik yang hanya ada di Pulau Sulawesi, ternyata lucu banget ya kisah hidupnya, unik dan lucu. Sekilas lihat gambarnya, saya kira ayam. he3x. Emang mirip ayam, sih. Tapi bedanya, maleo punya helm. Itu katanya. Saya belum pernah ke Sulawesi. But, paling tidak, kita perlu mengetahui satwa di negeri kita juga kan.

Burung Maleo adalah sejenis burung yang berukuran sedang, dengan panjang sekitar 55cm. Burung Maleo adalah satwa endemik Sulawesi, artinya hanya bisa ditemukan hidup dan berkembang di Pulau Sulawesi, Indonesia.
Burung Maleo yang dalam nama ilmiahnya Macrocephalon maleo (Macrocephalon berarti kepala besar) termasuk dalam keluarga Megapode, artinya burung dengan kaki besar, namun yang unik, kaki Maleo justru paling kecil dalam keluarga Megapode. Dalam keluarga ini terdapat 22 jenis termasuk Burung Gosong atau Moyo yang banyak terdapat di Phillipina dan Maleo Maluku yang cuma ada di Maluku, tetapi hanya burung Maleo dan dua jenis lain dari 22 jenis dalam keluarga ini yang bertelur di dalam tanah. Burung Maleo (Macrocephalon maleo) memiliki bulu berwarna hitam, kulit sekitar mata berwarna kuning, iris mata merah kecoklatan, kaki abu-abu, paruh jingga dan bulu sisi bawah berwarna merah-muda keputihan. Di atas kepalanya terdapat tanduk atau jambul keras berwarna hitam. Jantan dan betina serupa. Biasanya betina berukuran lebih kecil dan berwarna lebih kelam dibanding burung jantan. Pakan burung ini terdiri dari aneka biji-bijian, buah, semut, kumbang serta berbagai jenis hewan kecil.
Tidak semua tempat di Sulawesi bisa ditemukan maleo. Sejauh ini, ladang peneluran hanya ditemukan di daerah yang memliki sejarah geologi yang berhubungan dengan lempeng pasifik atau Australasia. Populasi hewan endemik Indonesia ini hanya ditemukan di hutan tropis dataran rendah pulau Sulawesi khususnya daerah Sulawesi Tengah, yakni di daearah Kabupaten Donggala (Desa Pakuli dan sekitarnya) dan Kabupaten Luwuk Banggai. Populasi maleo di Sulawesi mengalami penurunan sebesar 90% semenjak tahun 1950-an. Berdasarkan pantauan di Tanjung Matop,Tolitoli,Sulawesi Tengah, jumlah populasi dari maleo terus berkurang dari tahun ke tahun karena dikonsumsi dan juga telur-telur yang terus diburu oleh warga. Populasi terbanyaknya kini tinggal di Sulawesi Tengah.
Jumlah burung maleo sekarang ini diperkirakan kurang dari 10 ribu ekor. Untungnya Dinas Kehutanan Melalui Balai Taman Nasional Lore Lindu berhasil membuat penangkarannya di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, bekerja sama dengan masyarakat setempat. Paling tidak usaha ini mampu sedikit meminimalisir bahaya kepunahan yang mengancam burung anti poligami ini. Wilayah Taman Nasional Lore Lindu, selain di kabupaten Donggala, juga meliputi 6 kecamatan di Kabupaten Poso. Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 464/Kpts-II/1999 tanggal 23 Juni 1999, Taman Nasional Lore Lindu dikukuhkan dengan luas kawasan 217.991,18 ha, luas inilah yang menjadi dasar pengelolaan Taman Nasional Lore Lindu saat ini. Di wilayah Taman Nasional Lore Lindu ini, populasi maleo ditaksir tinggal 320 ekor. Mengenai Taman Nasional Lore Lindu ini dapat dilihat di website resminya di http://lorelindu.info/  atau di http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=4617&Itemid=1504
Karena populasi maleo yang kian sedikit, burung unik dan langka ini dilindungi dari kepunahan. Maleo dikategorikan sebagai terancam punah di dalam IUCN Red List. Spesies ini didaftarkan dalam CITES Appendix I. Akhirnya, satwa ini dinyatakan sebagai satwa yang dilindungi karena para pemburu liar sering sekali mengambil telur-telur Maleo seenaknya. Pemerintah membuat pantai khusus untuk konservasi atau penyelamatan maleo seluas 14 hektar yang terletak di Tanjung Binerean, Sulawesi Utara, dan termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone  di semenanjung minahasa. (saya bingung nulisnya, karena banyak referensi yang campur aduk, kalau salah mohon komentarnya.)
Banyak keunikan dari burung maleo ini mulai dari tubuh, habitat hingga tingkah lakunya, sehingga sangat layaklah untuk mendapat perlindungan dari pemerintah. Makanya tidak mengherankan jika sejak tahun 1990 berdasarkan SK. No. Kep. 188.44/1067/RO/BKLH tanggal 24 Pebruari 1990, Burung Maleo ditetapkan sebagai “Satwa Maskot” provinsi Sulawesi Tengah. Selain itu, Burung Maleo juga tercatat dalam LAMPIRAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1999 TANGGAL 27 JANUARI 1999 sebagai jenis satwa burung yang dilindungi.
Berikut ini adalah keunikan dari burung maleo yang saya dapat dari beberapa sumber dalam deskripsi sebagai berikut.

Perjuangan Seekor anak maleo
Berkaitan dengan keunikan dari burung Maleo, mungkin perlu tahu juga tentang perjuangan seekor maleo setelah menetas dari telurnya. Lucu dan imut, mungkin itulah kesan pertama kali saat melihat anak maleo yang baru menetas. Namun hal yang lebih mengesankan and mengagumkan adalah ketika melihat proses si anak maleo keluar dari dalam tanah setelah melewati masa “pengeraman”. Rasa kagum itu semakin bertambah begitu melihat si anak maleo yang baru saja mencapai permukaan tanah tersebut ternyata sudah bisa terbang. Ya, terbang. Tak seperti layaknya anak unggas pada umumnya yang butuh waktu berminggu-minggu untuk bisa terbang. Begitulah keistimewaan anak maleo. Namun siapa sangka, di balik kelucuan dan istimewaannya, si anak maleo ternyata memikul beban yang begitu berat nyaris setelah ditetaskan. Tanpa kehadiran sang induk saat matanya pertama kali melihat dunia ini, tanpa bimbingan sang induk untuk mencari makan dan terbang, tanpa perlindungan sang induk di saat bahaya menghampiri, bahkan, untuk keluar dari cangkang dan muncul ke permukaan bumi ini pun mereka harus berjuang sendiri. Tak jarang diantara mereka dijumpai mati saat dalam “perjalanan” mencapai permukaan tanah, terkadang mereka dijumpai dengan kepala yang sudah nongol di permukaan tanah, tapi sudah mati dikerumuni semut. Terkadang pula mereka dijumpai berhasil mencapai permukaan tanah namun sudah tanpa kepala di badan. Paling tidak, begitulah sedikit gambaran penderitaan dan perjuangan yang harus dilalui oleh anak maleo.
Setelah maleo betina meletakkan telurnya di dalam lubang, maka secara bergantian atau bersamaan kedua induk maleo (jantan dan betina) menimbun telur tersebut dan kemudian membuat timbunan tipuan (untuk mengelabui pemangsa). Berbeda dengan jenis-jenis unggas lainnya, Maleo tidak mengerami telurnya. Pengeraman telur dibantu oleh panas bumi atau panas dari sinar matahari.
Keberhasilan penetasan akan sangat bergantung pada temperatur/suhu tanah. Hasil-hasil penelitian menginformasikan bahwa suhu atau temperatur tanah yang diperlukan untuk menetaskan telur maleo berkisar antara 32-35 derajat celsius. Lama pengeraman pun membutuhkan waktu sekitar 62-85 hari. Namun pernah juga tercatat ada telur yang menetas kurang atau malah lebih dari kisaran waktu tersebut.
Saat waktu yang tepat tiba, telur pun pecah dan anak maleo akan keluar. Anak maleo yang baru menetas harus keluar sendiri ke permukaan tanah tanpa bantuan sang induk. Perjuangan untuk mencapai permukaan tanah akan membutuhkan waktu selama kurang lebih 48 jam. Inipun akan tergantung pada jenis tanahnya. Sehingga tak jarang beberapa anak maleo dijumpai mati “ditengah jalan”. Tanah yang terlalu padat, akar-akan pohon yang terlalu rapat, lubang yang di gali terlalu dalam diduga menjadi faktor penyebab si anak maleo kehilangan banyak energi (kelelahan) hingga mengakibatkan kematian. sebelum mencapai permukaan tanah.
Lolos dari perjuangan panjang di dalam tanah, begitu kepala si anak maleo muncul ke permukaan, bahaya lain pun sudah menanti. Semut. Barangkali karena bulu-bulunya yang masih basah (dan bau amis telur) sehingga menarik perhatian semut mendatanginya. dan tak ada ampun lagi bagi si anak maleo yang kondisi sebagian badannya masih terhimpit tanah,
akhirnya pasrah digerogoti semut. Kematian pun tak bisa terelakkan lagi. Terkadang tubuh lemahnya (setelah melalui perjalanan panjang di dalam tanah) harus dia pasrahkan untuk seekor tikus yang juga sedang menanti buruan.Sudahkah berakhir sampai disitu? Ternyata belum. Di luar sana masih banyak bahaya menanti. Banyak pemangsa atau predator  berkeliaran siap mengancam kehidupan maleo ini. Soa-soa, adalah sebutan orang Sulawesi Bagian Utara bagi hewan bernama Biawak (Varanus sp). Tentunya kita sudah tahu kalau hewan yang satu ini adalah pemangsa utama bagi hewan peliharaan seperti ayam, begitu pula dengan maleo. Soa-soa adalah musuh utama bagi maleo. Selain mereka memangsa anak maleo, mereka pun adalah predator utama bagi telur maleo (selain manusia). Karena kemampuan penciuman mereka yang sangat tajam sehingga dengan mudah mereka menemukan telur maleo yang sudah tertimbun tanah sekalipun.
Bahaya lainnya datang dari Babi Hutan (Sus sp) dan burung pemangsa (seperti Elang). Lokasi peneluran maleo yang sebagian besar merupakan daerah terbuka, sangat memudahkan bagi burung elang untuk mengintai mangsanya. Anak maleo yang masih lemah pun menjadi sasaran empuk mereka. Belum lagi bahaya dari ular, atau bahkan manusia. hmmm… Sepertinya perjalanan si anak maleo menuju kedewasaan menghadapi perjuangan yang sangat berat. Tapi bukankah Tuhan telah menciptakan mahluknya dengan keistimewaannya masing-masing?

Anak yang mandiri
Mungkin ini dia alasannya mengapa sang induk Maleo meninggalkan telurnya tanpa diurus sesekalipun. Maksudnya, setelah bertelur, ditinggal begitu saja seperti tidak terjadi apa-apa. Dierami aja tidak. Sungguh kasian telur ini.Jadi, apa ya anaknya nanti. Eh, ternyata bukan sembarangan anak yang menetas. Dia adalah anak maleo yang mandiri seperti yang dituliskan di atas bagaimana perjuangannya mencapai permukaan tanah. Luar biasa. Selain itu, anak yang baru saja mencapai permukaan tanah sudah memiliki kemampuan untuk terbang dan mencari makan sendiri (tanpa asuhan sang induk). Hal ini dikarenakan nutrisi yang terkandung didalam telur maleo lima kali lipat dari telur biasa, sehingga kemampuan sayap dari maleo sudah seperti unggas dewasa yang bisa terbang.

Burung Maleo Si Burung Setia
Burung Maleo ternyata juga dianggap sebagai burung yang setia pada pasangannya, lho. Tapi, juga perlu penelitian ilmiah juga untuk membuktikannya. Ada juga yang bilang Burung Maleo Si Burung Anti Poligami atau bisa dibilang si Monogami. Wah, tambah unik aja. He3x.

Tonjolan di kepala
Ada yang bilang burung maleo punya helm, tapi menurut saya lebih cocok seperti tonjolan di kepala, mirip seperti tanduk atau jambul keras berwarna hitam. Pada saat masih anak dan remaja, tonjolan di kepala ini belum muncul, namun pada saat menginjak dewasa tonjolan inipun mulai tampak. Diduga tonjolan ini dipakai untuk mendeteksi panas bumi yang sesuai untuk menetaskan telurnya (Meskipun hal ini masih memerlukan pembuktian secara ilmiah).

Tidak suka terbang.
Meskipun memiliki sayap dengan bulu yang cukup panjang, namun lebih senang jalan kaki dari pada terbang.

Habitat dekat sumber panas bumi.
Maleo hanya bisa hidup di dekat pantai berpasir panas sekitar gunung berapi atau di pegununungan yang memiliki sumber mata air panas, dan daerah-daerah hangat dari panas bumi atau kondisi geothermal tertentu. Sebab di daerah dengan sumber panas bumi itu, Maleo mengubur telurnya dalam pasir.

Telur yang besar.
Maleo memiliki ukuran telur yang besar, mencapai 5 kali lebih besar dari telur ayam. Beratnya antara 240 hingga 270 gram per butirnya. Menurut cerita orang-orang, karena ukuran telurnya yang besar ini, burung ini pingsan setelah bertelur. Lucu banget!

Kenapa telur burung aleo dicari oleh pemburu?
Telur burung Maleo memiliki nilai ekonomis, yang lebih tinggi dibandingkan telur ayam, karena bentuknya yang lebih besar. Harganya di pasar gelap bisa mencapai 50 ribu rupiah per butir (mahal ya). Burung Maleo sebenarnya dapat bertelur dua kali dalam sebulan. Namun setiap bertelur (waktu musim bertelur), hanya satu telur yang dihasilkan. Bandingkan dengan ayam, kalu udah waktu bertelur, dapat bertelur sekali per hari.

Upaya Pelestarian Burung Maleo
Dari hasil riset The Nature Conservancy, sebuah LSM internasional yang bergerak dalam konservasi lingkungan, dari sepuluh habitat burung Maleo di Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah, kini hanya tinggal 4 habitat saja. Sisanya telah rusak dan punah.
Penyebab utama terancamnya kelestarian burung Maleo tidak hanya telurnya diambil manusia, tetapi juga ganggan dari predator alaminya, yakni biawak dan tikus hutan.
Selain itu, pembukaan lahan hutan untuk perkebunan, dan kebakaran hutan juga menjadi penyebab rusaknya habitat asli burung Maleo. Salah satu habitat burung Maleo yang masih dapat dijumpai di kawasan Sulawesi Tengah adalah di Saluki, kawasan Taman Nasional Lore Lindu.
Untuk mencapai Saluki, dapat ditempuh dengan menggunakan mobil hingga Desa Tuva, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Donggala.
Desa ini berjarak sekitar 45 kilometer arah selatan dari Kota Palu, ibukota Sulawesi Tengah. Selepas dari Desa Tuva, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan sepeda motor sejauh 4 kilo meter.
Di Balai Taman Nasional Lore Lindu di Saluki inilah dilakukan upaya pelestarian terhadap burung Maleo. Lokasi penangkaran terletak di kawasan habitat aslinya, karena hanya di tempat semacam inilah burung maleo dapat berkembang biak.
Di lokasi ini terdapat sembilan kandang penangkaran. Telur burung Maleo disimpan di dalam lubang tanah yang berpasir di dalam kandang, dan akan menetas sendiri dalam waktu 76 hingga 90 hari.
Penangkaran burung Maleo ini turut melibatkan masyarakat sekitar. Salah seorang diantaranya adalah Ambo Tuo.
Kakek tiga orang cucu berusia 60 tahun ini, bersama 10 orang warga lainnya secara sukarela membantu polisi hutan menjaga kelestarian burung Maleo. Di 9 tempat penangkaran di Saluki ini terdapat sekitar 178 ekor burung Maleo.
Sementara di seluruh Taman Nasional Lore Lindu, jumlah populasi burung Maleo diperkirakan mencapai 500 ekor.
Menurut Herman Sasia, koordinator lapangan pelestarian burung Maleo Balai Taman Nasional Lore Lindu, gangguan terbesar dalam melestarikan burung Maleo datang dari predator alamnya, yakni biawak. Selain itu tangan jahil manusia yang mengambil telur burung Maleo.
Kawasan Saluki di Taman Nasional Lore Lindu ini merupakan salah satu tempat penangkaran burung Maleo, yang bisa dijadikan model bagi penyelamatan burung langka.
Kerjasama antara petugas dan warga setempat terbukti mampu menjaga kelestarian burung Maleo.


BURUNG MALEO TERANCAM TINGGAL CERITA
Ini mungkin berita lama, tapi pengen saya attach disini juga.

GORONTALO, KOMPAS.com — Alih fungsi belasan ribu hektar hutan di kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone atau TNBNW, Gorontalo, mengancam populasi dan habitat burung maleo. Hal ini disampaikan seorang pegiat lingkungan hidup di Gorontalo, Senin (7/6/2010).  
"Dengan diputuskannya pengalihan hutan konservasi di TNBNW seluas 14.000 hektar menjadi hutan produksi, cepat atau lambat hal itu akan mengancam Maleo," kata Muhammad Djufryhard, pengurus Komunitas untuk Bumi (Kubu) Gorontalo. Kelompok ini merupakan gabungan dari berbagai elemen yang memerhatikan masalah pelestarian alam dan lingkungan.
Menurut Muhammad, Hutan Hungoyono yang selama ini menjadi wilayah konservasi dan habitat burung maleo atau Macrocephalon maleo termasuk kawasan yang terkena kebijakan alih fungsi tersebut.
"Kawasan hutan konservasi itu dialihfungsikan menjadi hutan produksi," katanya.
Saat ini, kegiatan perlindungan dan penangkaran burung maleo menurutnya masih berlangsung. Sejak 2003, petugas konservasi telah berhasil melepas 2.600 anak burung maleo ke alam bebas. Anak-anak burung itu sebelumnya menetas di kawasan konservasi.
Maleo merupakan burung endemik yang hanya bisa dijumpai di Pulau Sulawesi. Burung yang dikenal antipoligami itu hanya bisa hidup dan bertelur di dekat pantai berpasir panas atau di pegununungan yang memiliki sumber mata air panas atau memiliki energi panas bumi.
"Kepunahan burung maleo di Hutan Hungoyono tinggal menunggu waktu saja. Izin pengelolaan hutan produksi akan membuat populasinya menjadi lebih sedikit dan bahkan akan hilang sama sekali," kata dia.  
Alih fungsi hutan taman nasional menjadi hutan produksi itu diusulkan oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo. Menurut dia, kondisi ini antara lain dipicu oleh penambangan emas tanpa izin yang sedang marak.

Sumber:
http://www.indosiar.com/ragam/54835/upaya-melestarikan-burung-maleo

gambar burung maleo:

burung maleo, yang mirip ayam..
sepasang burung maleo yang setia
burung maleo yang mau membuat sarang
burung maleo yang menggali lubang di pasir

telur maleo yang besar, 5 kali besarnya telur ayam
anak maleo
kepala anak maleo yang terlihat nongol di permukaan tanah.

No comments:

Post a Comment