Showing posts with label astronomi. Show all posts
Showing posts with label astronomi. Show all posts

54 planet memiliki potensi sebagai planet goldilock atau habitable

50 Billion Alien Planets May Inhabit Our Milky Way Galaxy

Baru baca berita sains di vivanews, ternyata dari 1.235 kandidat planet yang telah ditemukan Kepler, 54 planet dikategorikan memiliki potensi sebagai planet goldilock atau habitable (planet yang mungkin bisa didiami oleh manusia).

Para ilmuwan sedang bekerja pada teleskop antariksa pemburu planet, Kepler, milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat, NASA.

Pesawat luar angkasa, Kepler, yang diluncurkan sejak Maret 2009 adalah 'observatorium' paling rumit yang pernah ada. Teleskop luar angkasa itu didedikasikan untuk mempelajari planet alien alias planet-planet yang berada di luar tata surya.

"I am really delighted to find that we are seeing so many candidates," said William Borucki, Kepler's principal investigator. "It means there's a very rich ocean of planets out there to explore."

"Saya sangat senang karena kami menemukan begitu banyak kandidat planet," ujar William Borucki, Principal Investigator, Kepler, kepada situs Space.com.
"Ini artinya ada begitu banyak lautan planet di luar sana yang bisa dieksplorasi," tutur Borucki, pada ajang tahunan American Association for the Advancement of Science.

Hingga kini, teleskop Kepler memang belum bisa menemukan seluruh planet tersebut. Baru ada sekitar 1.235 kandidat planet yang ditemukan. Namun, angka 50 miliar muncul dari hasil perkiraan terbaik para ilmuwan berdasarkan data awal yang mereka miliki, sehingga mereka menyimpulkan kalau Galaksi Bima Sakti disesaki 50 miliar Planet

Sementara itu, untuk galaksi Bima Sakti secara "keseluruhan", ilmuwan memperkirakan ada sekitar 500 juta planet habitable, dari sekitar 50 miliar planet yang ada.

info vivanews dan space.com(gambar)

Luar Angkasa, ternyata adalah tempat sulit untuk punya anak.

Konsep bercinta di luar angkasa tengah marak dibicarakan. Apalagi, jika suatu saat nanti manusia harus meninggalkan Bumi karena sudah tidak layak untuk dihuni, kita tetap perlu menghasilkan keturunan. Bahkan saat kita sedang dalam perjalanan menuju tempat tinggal yang baru itu.

Akan tetapi, sejauh mana peluang untuk mendapatkan keturunan saat manusia telah meninggalkan planet bumi ini?


Dari penelitian yang dilakukan sejumlah ahli, tampaknya hal tersebut sulit terjadi. Pasalnya, ruang angkasa sendiri sebenarnya merupakan sebuah sistem kontrasepsi yang sangat besar.

Hasil penelitian khusus seputar seks di ruang angkasa menyimpulkan bahwa radiasi kosmik akan membombardir tubuh manusia dengan kuantitas yang besar selama perjalanan di luar angkasa. Selain itu, tinggal di Mars, misalnya, dalam waktu yang lama akan menurunkan jumlah sel sperma.

Janin yang sudah terbentuk tidak akan berkembang secara sempurna di lingkungan ruang angkasa. Meski saat ini ruang di pesawat angkut telah dilengkapi dengan pelindung radiasi yang lebih baik, tetap saja itu tidak cukup untuk melindungi zigot untuk berkembang.

Jika bayi berhasil keluar dari kandungan, peluang bayi itu mengalami cacat yang diakibatkan oleh radiasi sangat besar.

Dan masalah tidak hanya sampai di situ. Dari penelitian terhadap hewan yang dikirim ke luar angkasa, imbas radiasi bisa membunuh sel telur pada janin. Bayi akan terlahir dalam kondisi mandul. Artinya, itu akan mempersulit umat manusia berkembang di planet baru itu nantinya.

Menurut Richard Jennings, pakar medis ruang angkasa asalh University of Texas, astronot memang terbukti tetap mampu membuahi pasangannya setelah ia kembali ke Bumi. Akan tetapi, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap astronot yang menunaikan misi di luar angkasa dalam periode waktu lebih lama.

Dari sisi teknis, masih ada tantangan bagi manusia yang ingin menunaikan tugasnya di luar angkasa. Kostum ruang angkasa saat ini cukup berat dan tidak menyediakan banyak kemudahan untuk bercinta. Sayangnya, manusia tetap perlu menggunakan pakaian khusus.

Alasannya, dalam kondisi tanpa gravitasi, keringan atau cairan lain yang keluar dari tubuh berpotensi dapat merusak perangkat elektronik pesawat. Apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa manusia lebih berkeringat saat di luar angkasa.

Beberapa pakar melontarkan ide untuk membuat ‘ruang intim’ yang dipenuhi dengan titik-titik air dingin atau minyak beraroma pada pesawat luar angkasa agar turis yang melancong ke luar Bumi dapat meningkatkan hasrat bercinta mereka.

Namun demikian, tetap saja ada hambatan lain yang telah disiapkan ruang angkasa. Mekanisme tubuh manusia tidak memungkinkan itu terjadi. Sebagai informasi, gravitasi mikro atau tanpa gravitasi menurunkan tekanan darah manusia. Akibatnya, penis pria tidak akan dapat ereksi secara penuh.

Jika manusia ingin mendiami planet lain, antariksawan harus melakukan perubahan besar-besaran pada pesawat ruang angkasa agar penjelajah di masa depan bisa bertahan lebih lama di luar angkasa dan mampu menunaikan tugas alaminya.
Sumber:Vivanews

Gambar Spektakuler: Matahari dalam 3 Dimensi

Umumnya kita melihat gambar matahari dalam bentuk 2 dimensi, sehingga kita tidak bisa melihat bagian lain dari matahari seutuhnya. Nah, bagaimana dengan gambar 3 dimensinya?
Dari Bumi, Matahari terlihat bagai bola kuning yang menyilaukan. Meski menampilkan wajah beda, foto-foto sang surya yang diambil satelit luar angkasa masih dua dimensi.

Dan, pada Minggu 6 Februari 2011 terbukti: Matahari berbentuk bola. Satelit milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) berhasil mengambil gambar Matahari secara tiga dimensi.

"Ini adalah untuk pertama kalinya kita bisa melihat aktivitas manusia secara utuh dalam tiga dimensi," kata Angelos Vourlidas, ilmuwan STEREO di Laboratorium Angkatan Laut, Washington, DC, seperti dimuat situs NASA.

Ini, tambah dia, adalah peristiwa besar dalam bidang fisika Matahari. "STEREO menguak wajah asli Matahari-- bola plasma panas dengan medan magnet mirip tenunan rumit," tambah dia.

NASA mengirimkan dua satelit Solar Terrestrial Relations Observatory (STEREO) ke dua posisi Matahari secara berlawanan. Masing-masing mengambil foto Matahari 180 derajat. Dua gambar itu lalu digabungkan menjadi satu, membentuk bola merah membara.
Gambar Matahari yang diambil STEREO (NASA)



Untuk merilisnya ke publik, NASA memilih waktu yang bertepatan dengan momentum laga Superbowl saat Greenbay Packers melawan Steelers.

Dengan melihat gambaran utuh Matahari diharapkan akan berperan dalam pemantauan cuaca Bumi. Juga diyakini akan membantu terwujudknya impian manusia mengirimkan armada penjelajah langit ke seluruh tata surya. Untuk melihat video utuh Matahari lihat di sini
dan bisa didownload disini.
Nah, dengan demikian nih, kita bisa melihat bentuk matahari seutuhnya seperti apa dan bagaimana.

STEREO diluncurkan pada 2006, tugasnya adalah untuk melacak aliran energi dan materi Matahari ke Bumi. Satelit ini juga menyediakan gambar sistem Matahari-Bumi yang unik dan revolusioner. Misi mengambil gambar utuh Matahari secara tiga dimensi telah dilakukan sejak 2007.

Pada 2009, si kembar STEREO berhasil mengambil gambar struktur letusan di korona Matahari (coronal mass ejections) yang diyakini bisa berakibat negatif ke Bumi. Diperkirakan terjadi 2013 mendatang, peristiwa badai Matahari diperkirakan akan mengganggu komunikasi, navigasi, satelit, dan pembangkit listrik di Bumi.

STEREO dibangun dan didesain oleh para ilmuwan dari sejumlah negara, AS, Inggris, Prancis, Jerman, Belgia, Belanda, dan Swiss.

Kepada Telegraph, ilmuwan Inggris Dr Chris Davis yang terlibat dalam proyek STEREO mengatakan hasil kerja dua satelit itu sangat memuaskan. "Saya sangat gembira langkah maju ini, saya membayangkan di masa depan, observasi Matahari akan makin unik."

Sementara, pada The Guardian, ilmuwan Laboratorium Rutherford Appleton, Oxfordshire, Richard Harrison mengatakan hasil gambar STEREO akan mengubah persepsi orang terhadap Matahari.

"Matahari bukan lingkaran kuning seperti banyak orang kira," kata dia. "Ini sangat kompleks, dengan gambaran tiga dimensi, esensi untuk cara kerjanya," kata dia. (Daily Mail)
Source: vivanews

Foto-foto dan video lain yang saya copas dari STEREO Sun360:


STEREO Reveals the Entire Sun.Short narrated video about STEREO and its historic 360 degree view.For complete transcript, click here.    STEREO Reveals the Entire Sun.Short narrated video about STEREO and its historic 360 degree view.
For complete transcript, click here.

Available formats:
  1280x720 (59.94 fps) QT         2 GB
  1280x720 (59.94 fps) QT         1 GB
  1280x720 (29.97 fps) QT         493 MB
  1280x720 (29.97 fps) MPEG-4   113 MB
  960x720 (29.97 fps) MPEG-4   108 MB
  1280x720 (30 fps) QT         81 MB
  1280x720 (59.94 fps) QT         37 MB
  640x360 (29.97 fps) MPEG-4   30 MB
  320x180 (29.97 fps) MPEG-4   12 MB
  1280x720   GIF           273 KB
  320x180     PNG           116 KB
How to play the movies


The STEREO mission consists of two spacecraft orbiting the Sun, one moving a bit faster than Earth and the other a little slower.  In the time since the STEREO spacecraft entered these orbits near the beginning of 2007 they have been slowly separating.  In Feb. 2011 they reach the point at which they are on opposite sides of the Sun and can observe the entire far side of the Sun.    The STEREO mission consists of two spacecraft orbiting the Sun, one moving a bit faster than Earth and the other a little slower. In the time since the STEREO spacecraft entered these orbits near the beginning of 2007 they have been slowly separating. In Feb. 2011 they reach the point at which they are on opposite sides of the Sun and can observe the entire far side of the Sun.

Available formats:
  1280x720 (59.94 fps) QT         999 MB
  1280x720 (29.97 fps) QT         196 MB
  1280x720 (29.97 fps) MPEG-4   59 MB
  1280x720 (30 fps) QT         36 MB
  960x720 (29.97 fps) MPEG-4   33 MB
  1280x720 (59.94 fps) QT         17 MB
  640x360 (29.97 fps) MPEG-4   10 MB
  320x180 (29.97 fps) MPEG-4   4 MB
  1920x1080 TIFF         1 MB
  320x180     PNG           209 KB
How to play the movies


Rotating solar sphere made from a combination of imagery from the two STEREO spacecraft, together with simultaneous data from the Solar Dynamic Observatory.This movie is made from data taken on January 31, 2011.  STEREO is able to take images like this once every ten minutes.  Because the STEREO separation was still slightly less than 180 degrees at that time, the small gap on the far side of the Sun has been interpolated over to simulate the full 360 degree view that STEREO will see.  This gap will start to disappear on February 6, 2011, and will completely disappear over the next several days.  The regions near the seam between the STEREO Ahead and Behind images appear stretched out because they are at the edges of the Sun in the original images.  As the STEREO spacecraft continue to move further around to the farside of the sun, imaging in this part of the globe will improve.Credit: NASA/Goddard Space Flight Center/STEREO/SECCHI    Rotating solar sphere made from a combination of imagery from the two STEREO spacecraft, together with simultaneous data from the Solar Dynamic Observatory.This movie is made from data taken on January 31, 2011.  STEREO is able to take images like this once every ten minutes. Because the STEREO separation was still slightly less than 180 degrees at that time, the small gap on the far side of the Sun has been interpolated over to simulate the full 360 degree view that STEREO will see. This gap will start to disappear on February 6, 2011, and will completely disappear over the next several days.  The regions near the seam between the STEREO Ahead and Behind images appear stretched out because they are at the edges of the Sun in the original images.  As the STEREO spacecraft continue to move further around to the farside of the sun, imaging in this part of the globe will improve.
Credit: NASA/Goddard Space Flight Center/STEREO/SECCHI

Available formats:
  1280x720 (59.94 fps) QT         414 MB
  1280x720 (60 fps) Frames (Full Sun 1 31 11)
  1280x720 (29.97 fps) QT         15 MB
  1280x720 (30 fps) QT         15 MB
  960x720 (29.97 fps) MPEG-4   14 MB
  1280x720 (59.94 fps) QT         7 MB
  1280x720 (29.97 fps) MPEG-4   6 MB
  640x360 (29.97 fps) MPEG-4   4 MB
  320x180 (29.97 fps) MPEG-4   1 MB
  1280x720   GIF           282 KB
  320x180     PNG           118 KB
  160x80       PNG           31 KB
  80x40         PNG           8 KB
How to play the movies


Zoom in to solar activity visible on the far side of the Sun from the STEREO Behind spacecraft on January 13, 2011.  The images show a young, fast-growing magnetic active region of the solar atmosphere which produces solar flares and ejections of material from the sun. These images were taken by STEREO's Extreme UltraViolet Imager (EUVI). The brightest, most active areas show material at temperatures as-high-as 1.8 million degrees C, while the quieter parts of the images show material at temperatures of only 80,000 deg C. This activity occurred on the far side of the sun and so could not be directly seen from Earth.  The STEREO separation was still less than 180 degrees at that time, and the small gap on the far side of the Sun which would be briefly visible in the film has been interpolated over to simulate the full 360 degree view that STEREO will see.Credit: NASA/Goddard Space Flight Center/STEREO/SECCHI    Zoom in to solar activity visible on the far side of the Sun from the STEREO Behind spacecraft on January 13, 2011.  The images show a young, fast-growing magnetic active region of the solar atmosphere which produces solar flares and ejections of material from the sun. These images were taken by STEREO's Extreme UltraViolet Imager (EUVI). The brightest, most active areas show material at temperatures as-high-as 1.8 million degrees C, while the quieter parts of the images show material at temperatures of only 80,000 deg C. This activity occurred on the far side of the sun and so could not be directly seen from Earth. The STEREO separation was still less than 180 degrees at that time, and the small gap on the far side of the Sun which would be briefly visible in the film has been interpolated over to simulate the full 360 degree view that STEREO will see.Credit: NASA/Goddard Space Flight Center/STEREO/SECCHI

Available formats:
  1280x720 (59.94 fps) QT         411 MB
  1280x720 (29.97 fps) QT         32 MB
  1280x720 (30 fps) QT         16 MB
  960x720 (29.97 fps) MPEG-4   15 MB
  1280x720 (29.97 fps) MPEG-4   8 MB
  1280x720 (59.94 fps) QT         7 MB
  640x360 (29.97 fps) MPEG-4   4 MB
  320x180 (29.97 fps) MPEG-4   1 MB
  1280x720   TIFF         2 MB
  320x180     PNG           257 KB
How to play the  movies


Active regions rotating from the observed front side of the Sun to the helioseismic reconstructed far-side and back again to the front side in October/November 2003. Large active regions were clearly visible in the helioseismic images. These particular ones were extremely active and produced the well known Halloween solar storms.Credit: NASA/Goddard Space Flight Center/MDI/GONG(NSO/NSF)/HMI    Active regions rotating from the observed front side of the Sun to the helioseismic reconstructed far-side and back again to the front side in October/November 2003. Large active regions were clearly visible in the helioseismic images. These particular ones were extremely active and produced the well known Halloween solar storms.
Credit: NASA/Goddard Space Flight Center/MDI/GONG(NSO/NSF)/HMI

Available formats:
  1280x720 (59.94 fps) QT         144 MB
  1280x720 (30 fps) QT         5 MB
  1280x720 (59.94 fps) QT         4 MB
  960x720 (29.97 fps) MPEG-4   3 MB
  1280x720 (29.97 fps) QT         2 MB
  640x360 (29.97 fps) MPEG-4   1 MB
  1280x720 (29.97 fps) MPEG-4   1 MB
  320x180 (29.97 fps) MPEG-4   515 KB
  1280x720   PNG           240 KB
  320x180     PNG           75 KB
How to play the movies


Farside direct observations from STEREO (left) and simultaneous helioseismic reconstructions (right). Medium to large size active regions clearly appear on the helioseismic images, however the smaller ones fall within the noise level. STEREO observations of the far-side will help calibrate and further improve the helioseismic technique.Credit: NASA/Goddard Space Flight Center/SECCHI/GONG(NSO/NSF)/HMI    Farside direct observations from STEREO (left) and simultaneous helioseismic reconstructions (right). Medium to large size active regions clearly appear on the helioseismic images, however the smaller ones fall within the noise level. STEREO observations of the far-side will help calibrate and further improve the helioseismic technique.Credit: NASA/Goddard Space Flight Center/SECCHI/GONG(NSO/NSF)/HMI

Available formats:
  1280x720 (59.94 fps) QT         409 MB
  1280x720 (30 fps) QT         14 MB
  960x720 (29.97 fps) MPEG-4   13 MB
  1280x720 (29.97 fps) QT         10 MB
  1280x720 (59.94 fps) QT         6 MB
  1280x720 (29.97 fps) MPEG-4   5 MB
  640x360 (29.97 fps) MPEG-4   4 MB
  320x180 (29.97 fps) MPEG-4   1 MB
  1280x720   TIFF         787 KB
  320x180     PNG           105 KB
How to play the movies


The need for space weather services has grown significantly in past years as the technology we rely on for everyday life has become increasingly vulnerable to space weather. America's vulnerability to space weather is rising fast as our national and global critical technology infrastructure becomes more complex and dependent on advance technology.  These recent advances in our technological infrastructure drive emerging space weather service needs undreamed of just a decade ago. Our advanced technological infrastructure will face challenges from the increase in solar activity and are being addressed at the highest levels of government.Credit: NOAA Space Weather Prediction Center    The need for space weather services has grown significantly in past years as the technology we rely on for everyday life has become increasingly vulnerable to space weather. America's vulnerability to space weather is rising fast as our national and global critical technology infrastructure becomes more complex and dependent on advance technology.  These recent advances in our technological infrastructure drive emerging space weather service needs undreamed of just a decade ago. Our advanced technological infrastructure will face challenges from the increase in solar activity and are being addressed at the highest levels of government.Credit: NOAA Space Weather Prediction Center

Available formats:
  720 x 540         JPEG     98 KB
  320 x 240         PNG     273 KB


The critical observations from STEREO and SDO will help provide accurate and timely space weather storm warnings, and will aid greatly in our efforts to protect the technologies we have become so dependent in our daily activities. Measurements of coronal mass ejections from the STEREO spacecraft provide vital input for NOAA’s space weather forecasters. Enlil is the first operational physics-based numerical space weather prediction model. Using STEREO input, the model computes the trajectory of solar storms between Sun and Earth, and provides forecasts of geomagnetic storms out to 96 hours. Credit:WSA-Enlil Model: NOAA in partnership with AFW, AFRL (Nick Arge, WSAdeveloper), George Mason University (Dusan Odstrcil, Enlil modeldeveloper), NASA, NSF, and NRL.    The critical observations from STEREO and SDO will help provide accurate and timely space weather storm warnings, and will aid greatly in our efforts to protect the technologies we have become so dependent in our daily activities. Measurements of coronal mass ejections from the STEREO spacecraft provide vital input for NOAA’s space weather forecasters. Enlil is the first operational physics-based numerical space weather prediction model. Using STEREO input, the model computes the trajectory of solar storms between Sun and Earth, and provides forecasts of geomagnetic storms out to 96 hours. Credit:WSA-Enlil Model: NOAA in partnership with AFW, AFRL (Nick Arge, WSAdeveloper), George Mason University (Dusan Odstrcil, Enlil modeldeveloper), NASA, NSF, and NRL.

Available formats:
  1280x720 (59.94 fps) QT         294 MB
  960x720 (29.97 fps) MPEG-4   10 MB
  1280x720 (30 fps) QT         10 MB
  1280x720 (29.97 fps) QT         7 MB
  1280x720 (29.97 fps) MPEG-4   5 MB
  1280x720 (59.94 fps) QT         4 MB
  640x360 (29.97 fps) MPEG-4   3 MB
  320x180 (29.97 fps) MPEG-4   1 MB
  1280x720   TIFF         1 MB
  320x180     PNG           136 KB
How to play the movies


The continuing orbits of the two STEREO spacecraft as they orbit on the far side of the Sun until 2019.    The continuing orbits of the two STEREO spacecraft as they orbit on the far side of the Sun until 2019.

Available formats:
  1280x720 (59.94 fps) QT         913 MB
  1280x720 (29.97 fps) QT         282 MB
  1280x720 (29.97 fps) MPEG-4   52 MB
  1280x720 (30 fps) QT         32 MB
  960x720 (29.97 fps) MPEG-4   31 MB
  1280x720 (59.94 fps) QT         14 MB
  640x360 (29.97 fps) MPEG-4   9 MB
  320x180 (29.97 fps) MPEG-4   3 MB
  1920x1080 TIFF         2 MB
  320x180     PNG           281 KB
How to play the movies


View of the sun in ultraviolet primarily from STEREO B showing an active region not visible from Earth.    View of the sun in ultraviolet primarily from STEREO B showing an active region not visible from Earth.

Available formats:
  2048 x 2048     JPEG   378 KB
  320 x 320         PNG     394 KB


View of the sun in 304 Angstrom ultraviolet from STEREO.    View of the sun in 304 Angstrom ultraviolet from STEREO.

Available formats:
  2048 x 2048     JPEG   449 KB
  320 x 320         PNG     399 KB


Rotating solar sphere using 304 Angstrom Ultraviolet light.  This image is from February 6, 2011 and does not use any interpolation so there is a slight gap in coverage.    Rotating solar sphere using 304 Angstrom Ultraviolet light. This image is from February 6, 2011 and does not use any interpolation so there is a slight gap in coverage.

Available formats:
  1280x720 (59.94 fps) QT         207 MB
  1280x720 (60 fps) Frames (Full Sun 2 6 11)
  1280x720 (59.94 fps) QT         90 MB
  1280x720 (29.97 fps) QT         10 MB
  960x720 (29.97 fps) MPEG-4   7 MB
  1280x720 (29.97 fps) MPEG-4   3 MB
  1280x720 (30 fps) QT         7 MB
  1280x720 (59.94 fps) QT         3 MB
  640x360 (29.97 fps) MPEG-4   2 MB
  320x180 (29.97 fps) MPEG-4   902 KB
  1280x720   GIF           247 KB
  320x180     PNG           110 KB
How to play the movies

Astronom Temukan Lubang di Matahari

Lubang terlihat lebih gelap dibandingkan dengan kawasan di sekelilingnya.

Lubang terlihat lebih gelap dibandingkan dengan kawasan di sekelilingnya. Lubang ini memungkinkan gas panas dari inti Matahari terlepas ke luar. (space.com)

Sebuah satelit ruang angkasa telah mendeteksi dua lubang berukuran besar di Matahari. Lubang ini diyakini menjadi jalan bagi material dan gas milik bintang itu untuk keluar ke alam bebas.

Lubang yang disebut sebagai ‘coronal hole’ tersebut merupakan celah di antara medan magnet Matahari. Celah itu melubangi lapisan atmosfir luar yang super panas – disebut juga dengan corona – sehingga memungkinkan gas panas dari inti Matahari terlepas ke luar.

Lubang itu terdeteksi oleh satelit Hinode yang khusus memantau aktivitas Matahari. Adapun kedua lubang tersebut terdeteksi dari foto-foto yang diambil pada 1 Februari lalu.

Pada gambar yang ditangkap, lubang terdapat di bagian tengah atas di dekat kutub Matahari, adapun lubang lain berada di bagian bawah. Lubang juga terlihat lebih gelap dibanding bagian lain dari Matahari. Namun ada alasan untuk itu.

“Suhu lubang itu relatif dingin dibandingkan dengan kawasan aktif di sekelilingnya. Temperatur lebih dingin itu membuat lubang tampak lebih gelap di gambar,” kata juru bicara NASA, seperti dikutip dari Space, 15 Februari 2011.

Hinode Solar Observatory merupakan satelit pemantau milik Jepang yang telah mengamati bintang tersebut sejak diluncurkan pada tahun 2006 lalu. Satelit itu didesain untuk mempelajari medan magnet Matahari untuk membantu ilmuwan dalam memahami bagaimana energi disebarkan melalui lapisan berbeda milik atmosfir Matahari.

Misi pemantauan yang dilakukan Hinode sendiri merupakan misi gabungan antara Japan Aerospace Exploration Agency, Japan’s National Astronomical Observatory, NASA dan European Space Agency.
VIVAnews

Astronom Temukan Calon Planet di Balik Pluto

Tyche, nama calon planet itu berjarak 15 ribu kali lebih jauh dibanding Bumi ke Matahari.

Astronom menemukan bukti adanya 'planet' lain di belakang Pluto. (Corbis)
VIVAnews - Bertahun-tahun lalu, di sekolah kita diajarkan bahwa tata surya terdiri dari Matahari dan 9 buah planet. Akan tetapi, sejak diluncurkannya berbagai teleskop, pesawat, dan satelit, ruang angkasa menjadi lebih kompleks.

Saat Pluto didegradasi statusnya dari planet menjadi planet kerdil, lima tahun lalu, kita cukup terkejut. Tata surya tinggal dihuni 8 planet. Bagan dan model tata surya yang dipasang di ruang kelas di seluruh dunia harus diubah. Buku pelajaran harus ditulis ulang.

Namun, kini ilmuwan memiliki bukti-bukti kuat bahwa ada planet ke 9 berotasi di belakang Pluto. Dan planet ini ukurannya cukup besar.

Dari bukti-bukti yang ditangkap oleh teleskop ruang angkasa Wise milik NASA, planet raksasa ini tersembunyi di balik Oort Cloud, piringan awan yang terdiri dari benda-benda angkasa yang berada di titik terjauh sistem tata surya.

Oleh Daniel Whitmire dan John Matese, astrofisikawan dari University of Louisiana at Lafayette, Amerika Serikat, benda langit yang sedang diajukan untuk mendapat status ‘planet’ tersebut diberi nama Tyche. “Data-data awal seputar Tyche akan dipublikasikan April mendatang,” kata Whitmire, seperti dikutip dari Time, 16 Februari 2011.

“Setelah itu, planet tersebut kemungkinan akan mengungkapkan dirinya sendiri dalam dua tahun ke depan,” ucapnya.

Whitmire menyebutkan, setelah lokasi Tyche berhasil dipastikan, terserah pada International Astronomical Union (IAU) untuk menentukan apakah Tyche akan mendapat status planet secara penuh.

“Yang jadi masalah bagi IAU untuk meloloskan status planet adalah, kemungkinan besar Tyche terbentuk dari bintang lain,” kata Whitmire. “Ia kemudian ditarik oleh gaya gravitasi milik Matahari dan membuatnya berotasi pada sistem tata surya kita,” ucapnya.

Sebagai informasi, Tyche diperkirakan memiliki ukuran 4 kali lebih besar dibanding Jupiter dan mengorbit pada jarak 15 ribu kali lebih jauh dibanding jarak Bumi dan Matahari atau 375 kali lebih jauh dibandingkan dengan jarak Pluto dengan Matahari.

Kemungkinan, Tyche terdiri dari hidrogen dan helium dan memiliki atmosfir dan punya beberapa bulan seperti milik Jupiter. “Data dari Wise mengungkapkan bahwa Tyche empat sampai lima kali lebih panas dibanding Pluto, yakni mencapai -73 derajat Celcius.

“Panas tersebut merupakan sisa-sisa suhu dari proses pembentukannya,” kata Whitmire. “Obyek langit sebesar ini membutuhkan waktu yang panjang untuk menjadi dingin,” ucapnya.

Peneliti Siapkan Misi ke Dua Bulan Jupiter

Planet Yupiter dan Europa

VIVAnews - Ilmuwan asal Amerika dan Eropa sepakat bekerjasama dalam mengerjakan misi ambisius ke Jupiter. Mereka tertarik untuk mengeksplorasi samudera yang ada di dua buah bulan berlapis es milik planet raksasa tersebut.

Europa Jupiter System Mission, nama misi itu, merupakan usaha gabungan antara NASA dan European Space Agency (ESA). Misi dipersiapkan dalam rangka melakukan pencarian terhadap dunia lain yang bisa dihuni manusia.

Misi tersebut, jika disetujui, akan mengirimkan dua satelit yang akan mengorbit di dua buah bulan milik Jupiter. Satelit milik NASA akan pergi ke Europa, sementara satelit milik ESA akan mengelilingi Ganymede, bulan lain di Jupiter yang diperkirakan juga memiliki perairan yang sangat luas.

“Meski dipisahkan oleh samudera, namun kami sepakat untuk menggelar misi ke dunia air di Jupiter,” kata Bob Pappalardo, peneliti dari Jet Propulsion Laboratory NASA di California, Amerika Serikat, seperti dikutip dari Space, 9 Februari 2011.

Pappalardo sendiri merupakan ilmuwan yang bertugas untuk menangani satelit yang akan dikirimkan ke Europa.

“Europa Jupiter System Mission akan menghadirkan lompatan pengetahuan ilmiah seputar kondisi bulan-bulan milik Jupiter dan potensi yang mereka miliki terhadap kehidupan,” ucap Pappalardo.

Sebagai informasi, pada tahun 2009 lalu, proposal penggelaran misi bersama NASA dan ESA tersebut diprioritaskan untuk dipelajari lebih lanjut. Dan Peneliti dari kedua belah pihak sepakat bahwa secara teknis, misi tersebut merupakan misi luar angkasa yang paling memungkinkan.

Dalam beberapa bulan ke depan, NASA juga akan menganalisa kembali strategi kerjasama sambil menunggu hasil dari Planetary Science Decadal Survey yang digelar oleh National Research Council of US National Academies. Survey itu akan menjadi basis bagi road map misi NASA ke planet-planet untuk dekade yang dimulai pada tahun 2013 mendatang.

Jika disepakati, Europa Jupiter System Mission akan diluncurkan pada tahun 2020 mendatang. Diperkirakan satelit itu akan tiba di orbit Europa dan Ganymede sekitar tahun 2026.
Vivanews- @yahoo
[]

3 miliyar tahun mendatang, akankah bumi hancur?

Bima Sakti dan Andromeda sebelum bertubrukan (atas) dan setelah bergabung (bawah). (7coolist.com)

Dalam catatan saya kali ini, saya akan menulis tentang "3 miliyar tahun mendatang, akankah bumi hancur?".
Andromeda, galaksi besar yang menjadi tetangga galaksi kita diketahui merupakan kanibal luar angkasa. Hingga tumbuh besar seperti sekarang ini, ia telah memakan galaksi lain yang terbang terlalu dekat dengannya. Yang menarik, Andromeda kini semakin mendekat.[]

Seperti diketahui, Andromeda dan galaksi kita, Bima Sakti, merupakan dua galaksi raksasa di lingkungannya. Andromeda juga merupakan galaksi raksasa terdekat. Jaraknya hanya sekitar 2,5 juta tahun cahaya. Satu tahun cahaya sendiri berjarak sekitar 9,4 triliun kilometer.

Seperti dikutip dari Msnbc, 1 Februari 2011, Bima Sakti dan Andromeda saling mendekat dengan kecepatan sekitar 120 kilometer per detik dan akan bertabrakan.

Namun demikian, jaraknya yang sangat jauh membuat tabrakan super raksasa ini baru akan terjadi sekitar 3 miliar tahun yang akan datang. Lalu, apakah bumi akan hancur?

Untuk mengetahuinya, astronom menggunakan simulasi superkomputer dan mengkalkulasikan salah satu skenario yang mungkin terjadi saat Andromeda dan Bima Sakti saling beradu.

Video simulasi yang dibuat menggunakan 100 juta partikel virtual. Film yang dibuat menyoroti ruangan dengan sudut pandang selebar sekitar 10 miliar miliar kilometer. Adapun durasi waktu yang direkam oleh simulasi komputer itu mencapai 1 miliar tahun.

“Diperkirakan, bintang-bintang di kedua galaksi, termasuk matahari milik tata surya kemungkinan besar tidak akan saling bertubrukan,” kata John Dubinski, astronom dari Canadian Institute for Theoretical Astrophysics, University of Toronto.

Namun demikian, kata Dubinski, gaya gravitasi milik kedua galaksi kemungkinan akan saling menarik, saling berpelintir, dan membelokkan, hingga setelah satu miliar tahun kemudian, galaksi berbentuk elips yang merupakan kombinasi dari Andromeda dan Bima Sakti lahir.

Setelah penggabungan Andromeda dan Bima Sakti tersebut selesai, proses itu akan menyisakan puing-puing berserakan di antariksa.

Seperti diketahui, sebelum ini, Andromeda menelan galaksi kecil bernama Triangulum. Sekitar 3 miliar tahun lalu, Triangulum bergerak terlalu dekat dengan Andromeda. Bintang-bintang miliknya kemudian dilucuti dan ditarik masuk ke dalam oleh gaya gravitasi raksasa yang dimiliki Andromeda.[]

Planet Mars Diduga Sembunyikan Banyak Es

Dalam catatan saya kali ini, saya akan menulis tentang "Planet Mars Diduga Sembunyikan Banyak Es"

Menurut berita di vivanews, iklim Mars diduga terlalu keras sehingga tidak memungkinkan es hadir di khatulistiwanya.
Diperkirakan, ada lebih banyak es di permukaan planet Mars. (fineartamerica.com)

Kutub-kutub planet Mars kemungkinan bukanlah satu-satunya tempat di mana air es bersembunyi di planet itu. Dari penemuan terbaru, astronom memprediksi bahwa es juga hadir di kawah-kawah yang ada di sekitar garis katulistiwa Mars.
[]

Temuan ini disebut-sebut dapat memberikan dampak signifikan terhadap eksplorasi planet Mars di masa depan. Nantinya, es tersebut berpeluang dapat dimanfaatkan sebagai penyambung hidup ketika manusia mulai ada yang ditugaskan di sana.

Menggunakan gambar-gambar yang diambil oleh Mars Global Surveyor dan Mars Reconnaissance Orbiter, David Shean, Planetary Geologist dari Malin Space Science Systems di San Diego, Amerika Serikat menyebutkan, tampaknya ada banyak material yang kaya akan es terkubur di dasar setidaknya 38 kawah di kawasan Sinus Sabaeus, yang ada di dekat katulistiwa Mars.

“Sangat mengherankan bahwa hal-hal seperti ini tidak disadari sebelumnya meski sudah ada ratusan ribu foto-foto resolusi tinggi yang diambil selama 15 tahun terakhir,” kata Shean, seperti dikutip dari Space, 2 Februari 2011. “Ini bukti bahwa planet Mars memang penuh dengan kejutan.”

Dari penelitian-penelitian terdahulu, kutub planet Mars diperkirakan menyimpan es. Akan tetapi, iklim di planet itu terlalu keras bagi kelangsungan air. Udara di sana sangat tipis sehingga jika ada es di permukaan planet akan segera menguap.

“Sejak lama kami telah melihat gambar-gambar yang menunjukkan bahwa tampak material yang kaya akan es di dasar kawah di kedua kutub Mars,” kata Shean. “Yang mengherankan, ternyata material yang sama juga ditemukan di khatulistiwa planet itu,” ucapnya.

Shean menyebutkan, jika ada es yang terkubur di khatulistiwa, tampaknya ia menyimpan catatan penting terhadap kondisi iklim di masa lalu Mars yang sangat ingin dianalisa oleh ilmuwan.

Lebih lanjut, Shean menyebutkan, kawasan khatulistiwa jauh lebih menarik untuk dijadikan tujuan untuk eksplorasi di masa depan dibandingkan dengan kutub karena mendapatkan lebih banyak sinar matahari dan memiliki temperatur yang lebih hangat.

“Khatulistiwa cocok untuk kendaraan penjelajah bertenaga matahari,” kata Shean. “Namun demikian, eksplorasi masa depan juga membutuhkan air sebagai sumber pendukung kehidupan,” ucapnya.

Temuan es di kawasan khatulistiwa planet Mars tersebut dipaparkan di jurnal Geophysical Research Letters.
Source: Vivanews []

Temukan Planet Ekstra Surya Tanpa Teleskop


Dalam catatan saya kali ini, saya akan menulis tentang "Temukan Planet Ekstra Surya Tanpa Teleskop". From KOMPAS.com--> Astronom amatir berusia 45 tahun bernama Peter Jalowiczor berhasil mengejutkan dunia dengan penemuannya. Tak main-main, ia menemukan empat planet ekstra surya (di luar tata surya) tanpa bantuan teleskop sama sekali.

Empat planet yang ditemukannya adalah HD 31253b yang berjarak 172 tahun cahaya dari Bumi, HD218566b yang berjarak 98 tahun cahaya, HD177830c yang berjarak 190 tahun cahaya, dan HD99492c yang berjarak 58 tahun cahaya.[]

Jalowiczor menemukan keempat planet tersebut hanya dengan data astronomi Universitas Santa Cruz yang dipublikasikan tahun 2005. Mulai tahun 2007, Jalowiczor menganalisis data tersebut, membuat gambar dan grafik untuk mendeteksi planet.

Ia menggunakan teknik yang disebut Spektroskopi Doppler. "Saya melihat perubahan perilaku pada bintang yang hanya bisa disebabkan oleh planet. Sekali saya mendapatkannya, saya langsung mengirimkan data ke Santa Cruz," paparnya.

Ia memaparkan, "Jika ada planet yang mengorbit bintang, maka akan tampak goyangan kecil pada gerakan bintang itu. Goyangan tersebut menunjukkan keberadaan planet itu sendiri dalam sistem bintang."

Berkat temuannya, nama Jalowiczor bisa tertulis sebagai co-author dalam publikasi ilmiah tentang planet ini di Astrophysical Journal. Sementara pihak lain yang terlibat adalah tim peneliti dari Universitas California.

Jalowiczor yang juga anggota South Yorkshire's Mexborough and Swinton Astronomical Society sangat tersanjung dan terhormat ketika dicantumkan sebagai co-author. Ia berkata, "Semoga hasil kerja saya bisa memotivasi yang lain."

Berkaitan dengan penemuannya, Jalowiczor sendiri merasa terkejut. "Saya suka astronomi sejak kecil, tapi menjadi salah satu penemunya, oh... saya kehilangan kata-kata," ungkapnya.

Publikasi data astronomi oleh Universitas Santa Cruz sendiri memang punya tujuan tertentu. Para ahli berharap, data itu bisa memacu munculnya temuan dari astronom amatir. Adanya temuan oleh Jalowiczor menunjukkan bahwa tujuan tercapai.
Kompas.com[]

Kepler 10b - Salah satu planet di luar Tata Surya temuan NASA

Planet Kepler menurut rekaan artis (NASA/Kepler Mission)

Dalam catatan saya kali ini, saya akan menulis tentang "Kepler 10b - Salah satu planet di luar Tata Surya temuan NASA". Ilmuwan dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat berhasil menemukan planet terkecil di luar tata surya. Nama planet yang diumumkan Senin (10/1/2011) tersebut adalah Kepler 10-b, dinamai sesuai dengan nama teleskop yang digunakan untuk menemukannya.]

Penemuan planet ini adalah hasil pengumpulan data dari teleskop ruang angkasa sejak Mei 2009 hingga awal Januari 2010. Natalie Batalha, ilmuwan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang menemukan planet tersebut, mengungkapkan bahwa Kepler merupakan planet berbatu, sama seperti Bumi. Ini membedakan dengan beberapa jenis planet lain yang terdiri atas massa gas.

Ukuran Kepler 10-b tergolong terkecil sebab hanya 1,4 kali ukuran Bumi. Sementara itu, massa planet ini sekitar 4,5 kali massa Bumi. Sejauh ini belum pernah ditemukan planet mirip Bumi di luar tata surya yang berukuran sekecil ini.

Meski mirip dengan Bumi karena terdiri atas batuan, suhu planet ini terlalu panas. Salah satu sisinya bersuhu 2.700 derajat Fahrenheit. Menurut pendapat ilmuwan, suhu panas ini disebabkan jarak Kepler 10-b dan bintangnya 20 kali lebih dekat dibandingkan jarak Merkurius-Matahari.

Karena suhu panasnya, Batalha berpendapat bahwa planet ini tak mampu mendukung kehidupan.

Besok, Rabu (2/2/2011), NASA akan mengumumkan penemuan planet alien atau ekstra surya terbaru hasil misi pesawat antariksa Kepler. Pengumuman akan dilakukan di Auditorium Markas NASA di Washington, Amerika Serikat, dan disiarkan secara langsung di televisi NASA.

Pengumuman akan dilakukan dalam sebuah briefing pukul 13.00 waktu setempat atau lebih kurang 3 Februari pukul 01.00 WIB. Pihak NASA mengatakan bahwa briefing tersebut hanya akan membahas temuan planet ekstra surya terbaru.

Pengumuman resmi di situs NASA mengungkapkan bahwa data yang dirilis akan memperbarui jumlah kandidat planet. Data berdasarkan observasi yang dilakukan antara tanggal 2 Mei 2009 dan 17 Sepetember 2009. Pertemuan akan mengikuti jadwal yang telah dirilis hari ini.

Dalam pertemuan nanti akan hadir pihak terkait misi Kepler, di antaranya Douglas Hudgins dari Kepler Program Sceintist NASA, William Borucki dan Jack Lissauer yang menjadi investigator misi Kepler di Ames Research Center NASA, serta Debra Fischer, profesor astronomi dari Yale University.

Sebagaimana diketahui, NASA memakai Kepler untuk meneliti planet di luar tata surya yang mengelilingi bintang induknya pada zona layak huni, yang mungkin terdapat air. Jadi, dalam pengumuman itu mungkin masyarakat bisa mendapat informasi tentang planet yang layak dihuni manusia.

Kepler menggunakan fotometer super sensitif yang mampu memonitor lebih dari 156.000 bintang di gugus bintang Cygnus dan Lyra. Dengan peralatan itu, Kepler mampu mendeteksi keberadaan planet melalui peredupan cahaya bintang induk ketika sebuah planet melewatinya.

Baru-baru ini Kepler berhasil menemukan planet alien terkecil bernama Kepler 10b. Planet itu berukuran 1,4 kali Bumi dengan massa 4,6 kali Bumi, mengelilingi bintang yang jaraknya 560 tahun cahaya dari Bumi. Sayang, planet itu tak layak huni karena terlalu dekat dengan bintang induknya.

Bagi Anda yang ingin menyaksikan secara langsung pengumuman tersebut, Anda bisa mengakses televisi NASA secara online di www.nasa.gov/ntv.

Sumber: Kompas.com

[]

Black Hole Terbesar, 6,6 Miliar Kali Matahari


Astronom berhasil melakukan pengukuran terhadap lubang hitam (black hole) terbesar di sistem tata surya tetangga. Diperkirakan, black hole tersebut memiliki bobot yang sama dengan 6,6 miliar bobot matahari. []

Melihat ukurannya yang raksasa, lubang hitam yang berada di M87, galaksi berbentuk elips itu bisa menjadi black hole pertama yang bisa ditangkap secara langsung oleh teleskop, bukan ditemukan berdasarkan bukti-bukti yang didapat.

Karl Gebhardt, astronom dari University of Texas, Amerika Serikat yang memimpin tim peneliti menggunakan teleskop Gemini North berukuran diameter 8 meter yang ada di Hawaii. Mereka mengamati pergerakan bintang-bintang di sekitar lubang hitam itu.

Untuk mendapatkan massa lubang hitam secara konklusif, Gebhardt dan timnya perlu memperhitungkan seluruh komponen di galaksi. Termasuk halo gelap – sebuah kawasan yang mengelilingi galaksi yang dipenuhi dengan partikel gelap – lubang hitam dan bintang-bintang.

Gebhardt menggunakan fasilitas Near-Infrared Field Spectograph di teleskop Gemini untuk mengukur kecepatan bintang-bintang saat mereka mengorbit lubang hitam. Optik adaptif kemudian digunakan untuk mengganti secara real time setiap perpindahan di atmosfir yang bisa mengaburkan detail yang dapat ditangkap oleh teleskop di Bumi.

Hasilnya, tim berhasil melacak bintang-bintang pada pusat galaksi M87 dengan akurasi 10 kali lebih baik dibanding sebelumnya.

“Temuan ini hanya bisa dimungkinkan dengan mengombinasikan kelebihan ukuran teleskop dan resolusi spasial pada level yang umumnya hanya diperkenankan untuk digunakan pada fasilitas luar angkasa,” kata Gebhardt, seperti dikutip dari TGDaily, 18 Januari 2011.

Penemuan tersebut juga membuka peluang dimungkinkannya manusia melihat lubang hitam. “Saat ini belum ada bukti langsung bahwa lubang hitam benar-benar ada,” kata Gebhardt. “Saat ini lubang hitam baru bisa disimpulkan,” ucapnya.

Menurut Gebhardt, lubang hitam di M87 sangat raksasa sehingga astronom di masa depan bisa mendeteksi ‘event horizon’ atau sisi terluar, di mana tidak ada apapun yang bisa menghindar darinya. Diperkirakan, event horizon milik lubang hitam M87 berukuran tiga kali lebih besar dibanding orbit planet Pluto. Ukuran ini cukup besar untuk menelan seluruh sistem tata surya kita.

Meski teknologi untuk melihat secara langsung lubang hitam, Gebhardt menyebutkan, di masa depan, astronom juga bisa menggunakan jaringan teleskop sub milimeter di seluruh dunia untuk mencari bayangan dari event horizon pada piringan gas yang mengelilingi lubang hitam M87. [sOURCE: Vivanews]

NASA Siapkan Misi Pencari Kehidupan di Mars


Setelah lebih dari empat dekade terakhir manusia mengirim robot ke Mars, kini tiba waktunya memasuki tahapan baru. Perubahan orientasi penelitian tersebut akan dilakukan bersamaan dengan peluncuran misi kendaraan penjelajah Curiosity ke planet merah itu akhir tahun ini.

“Kami akan melakukan transisi dari pencarian air ke pencarian tanda-tanda kehidupan,” kata Doug McCuisition, Director of the Mars Exploration Program NASA, seperti dikutip dari Space, 20 Januari 2010.

McCuisition menyebutkan, Mars telah melewati berbagai tahapan geologi. Di satu miliar tahun pertamanya, diyakini planet itu berbentuk serupa dengan Bumi. Setelah itu ia mengalami periode volkanik dan kemudian mendingin dan kering seperti saat ini.

“Jika planet itu pernah seperti Bumi, apakah kehidupan pernah sempat hadir dan apakah ada kehidupan sampai saat ini di sana? Itu yang menjadi pertanyaan,” ucap McCuisition.

Misi Mars Science Laboratory yang akan digelar itu diharapkan akan menggunakan perlengkapan ilmiah terbaru di permukaan planet Mars, dalam bentuk kendaraan penjelajah bernama Curiosity.

Meski saat ini dua kendaraan penjelajah NASA yakni Spirit dan Opportunity yang masing masing berukuran tinggi 1,5 meter dan lebar 1,8 meter masih parkir di Mars, Curiosity akan hadir melengkapinya. Kendaraan itu akan memiliki ukuran sebesar mobil dan membawa instrumen yang lebih kompleks, termasuk lab kimia yang terintegrasi di dalamnya.

Ke depannya, NASA berharap bahwa mereka dapat membawa bebatuan dari planet Mars untuk dianalisa lebih lanjut di Bumi.

[sOURCE: Vivanews]

Pemicu Kiamat 2012 Berkurang Satu


Dalam catatan saya kali ini, saya akan menulis tentang "Pemicu Kiamat 2012 Berkurang Satu". Isu tentang kiamat di tahun 2012 masih menjadi topik hangat. Tidak sedikit kelompok yang mengisyaratkan bahwa kiamat benar-benar akan terjadi tahun depan, mulai dari Suku Maya sampai ilmuwan modern.[]

Segelintir ilmuwan modern mengatakan bahwa kiamat 2012 nanti sedikit banyak dipengaruhi oleh ledakan sebuah bintang berukuran raksasa bernama Betelgeuse. Dan, informasi ini sempat santer terdengar, terutama di kalangan ilmuwan astronomi.

Betelgeuse adalah bintang raksasa yang sekarat. Jika dilihat kondisinya, ia telah mencapai baris akhir usianya dan saat ini sedang bergejolak menciptakan gelembung gas raksasa untuk yang kemudian meledak menjadi supernova satu waktu.

Ukuran Betelgeuse sangat besar dan luar biasa megah, sebab itu ketika ia menjadi supernova diperkirakan akan memporakporandakan galaksi di sekitarnya. Untungnya, drama ini terjadi 640 tahun cahaya di konstelasi Orion. Menurut perhitungan ilmuwan, ledakan supernova tersebut tidak berdampak terlalu besar bagi tata surya.

Betelgeuse adalah selebriti di antara bintang-bintang yang tertangkap oleh lensa para astronom. Layaknya selebriti, ia selalu menjadi bahan pembicaraan kapan saja, karena alasan apa pun, hingga hari ini ia membuat gelombang pesan baru di Twitter yang rata-rata berisi: "Betelgeuse akan meledak! Segera! Mungkin sekitar 2012!"

Sampai akhirnya, muncul sebuah artikel di kantor berita Australian News.com.au. Di tengah-tengah membacanya, Anda akan pikir jurnalis tersebut berhasil membuat artikel terheboh di dekade ini. "NEWS FLASH: Ledakan Betelgeuse akan menjadi peristiwa penting paling sensasional. Ia selalu dibicarakan di tabloid-tabloid beberapa tahun terakhir."

Namun, isu itu semakin pudar sejak muncul penelitian yang mengatakan massa bintang itu menyusut. Tapi, seperti temuan yang ditunjukkan para astronom, susut tersebut bisa menjadi bagian dari siklus alami atau masuk ke fase tidak simetris. Kita tunggu saja waktunya.

[SOURCE:VIVANEWS]

FOTO: Tempat Paling Ekstrim di Tata Surya

Dalam catatan saya kali ini, saya akan menulis tentang "FOTO: Tempat Paling Ekstrim di Tata Surya".
Fenomena serupa dengan yang terjadi di Bumi namun dengan skala yang jauh lebih dahsyat.
VIVAnews - Sistem tata surya kita merupakan tempat berbagai kondisi ekstrim. Dalam bukunya yang berjudul The 50 Most Extreme Places in Our Solar System, David Baker dan Todd Ratcliff memaparkan di mana saja tempat-tempat yang paling unik hingga mengerikan di tata surya.
[]

Badai Tercepat
Awan badai berkecepatan hingga 600km/jam telah terjadi di planet Jupiter selama hampir 345 tahun sejak pertama kali berhasil diamati pada tahun 1665.

Palung Samudera Terdalam
Europa, salah satu bulan milik planet Jupiter memiliki palung samudera terdalam di tata surya. Kedalamannya diperkirakan mencapai 100km atau 10 kali lipat palung Mariana, titik terdalam di planet Bumi.

Kawasan Volkanik Terpadat
Io, salah satu bulan yang juga milik planet Jupiter, merupakan tempat dengan tingkat aktivitas vulkanik tertinggi di tata surya. Seluruh permukannya bulan itu dipenuhi oleh gunung berapi aktif.

Petir Terhebat
Sambaran petir atau kilat di planet Saturnus berkekuatan hingga 1.000 kali lipat petir yang terjadi di bumi.

Durasi Siang-Malam Terkacau
Hyperion, salah satu bulan yang dimiliki planet Saturnus berotasi secara tidak beraturan. Dampaknya, rotasi tersebut mengakibatkan waktu siang dan malam di bulan itu tidak pernah sama tiap harinya.

Hujan Termewah
Para peneliti mengungkapkan teori paling menarik. Diperkirakan, reaksi kimia yang terjadi di atmosfer Planet Uranus dan Neptunus akan menghasilkan hujan berlian di seluruh permukaan planet.

Tempat Terpanas
Suhu permukaan yang mencapai 460 derajat celcius menjadikan planet Venus sebagai planet yang paling panas di tata surya. Sebagai gambaran, planet Merkurius, planet terdekat dengan Matahari, suhunya sangat bervariasi namun tak sampai setinggi suhu Venus. Di kawasan terpanas Merkurius, suhunya hanya mencapai 426 derajat celsius.

Gunung Tertinggi
Gunung Olympus di planet Mars adalah gunung api tertinggi di tata surya. Ketinggiannya mencapai 27 ribu meter atau 3 kali lipat tinggi gunung Everest yang ada di planet Bumi.

Ngarai Terbesar
Planet Mars memiliki ngarai terbesar di tata surya, kedalamannya diperkirakan mencapai sekitar 10 ribu meter atau hingga 6 kali lipat kedalaman ngarai Grand Canyon di Amerika Serikat.
Awan badai berkecepatan hingga 600 km/jam telah terjadi di Planet Jupiter selama hampir 345 tahun sejak pertama kali berhasil diamati pada tahun 1665. Foto: NAS A/ JPL / Space Science Institute

Europa, salah satu bulan planet Jupiter memiliki palung samudera terdalam di tata surya. Kedalamannya diperkirakan mencapai 100 km atau 10 kali lipat palung Mariana, titik terdalam di Bumi.

Sambaran petir/ kilat di planet Saturnus berkekuatan hingga 1000 kali lipat petir yang terjadi di bumi. Foto: NASA / JPL / Space Science Institute

Io, salah satu bulan planet Jupiter, adalah tempat dengan tingkat vulkanisme tertinggi di tata surya. Seluruh permukannya dipenuhi oleh gunung berapi aktif. Foto: NASA

Hyperion, salah satu bulan yang dimiliki planet Saturnus berotasi secara tidak beraturan, hal ini mengakibatkan waktu siang dan malam di bulan tersebut tidak pernah sama tiap harinya. Foto: NASA


Para peneliti mengeluarkan teori bahwa reaksi kimia yang terjadi di atmosfer Planet Uranus (kiri) dan Neptunus (kanan) akan menghasilkan hujan berlian di seluruh permukaan planet. Foto: NASA / ESA

Gunung Olympus di Planet Mars adalah gunung api tertinggi di tata surya. Ketinggiannya mencapai 27 ribu meter atau 3 kali lipat tinggi Gunung Everest. Foto: NASA / JPL

Dengan suhu permukaan yang mencapai 460 derajat celcius menjadikan Planet Venus sebagai tempat paling panas di tata surya. Foto: NASA

Planet Mars memiliki ngarai terbesar di tata surya, kedalamannya diperkirakan hingga 6 kali lipat kedalaman ngarai di Grand Canyon atau sekitar 10 ribu meter. Foto: NASA / USGS



Source: Vivanews []

Teleskop Hubble Temukan Galaksi Tertua

Dalam catatan saya kali ini, saya akan menulis tentang "Teleskop Hubble Temukan Galaksi Tertua".Berdasarkan kalkulasi, diperkirakan galaksi ini lahir 480 juta tahun setelah Big Bang.
Info dari VIVAnews - Teleskop ruang angkasa Hubble telah mendeteksi sebuah galaksi baru. Galaksi ini merupakan galaksi tertua yang pernah terdeteksi. Ukurannya yang kecil juga berpotensi menyimpan petunjuk bagaimana bintang terbentuk saat alam semesta masih berusia muda. []

Setitik cahaya kecil dari galaksi itu yang berhasil ditangkap oleh telescop Hubble yang mengorbit di Bumi membutuhkan 13,2 ribu juta tahun untuk mencapai Bumi. Artinya, galaksi tersebut hadir sekitar 480 juta tahun setelah Big Bang terjadi.

Meski terdapat kemungkinan bahwa masih ada galaksi lain yang lebih tua dibanding galaksi yang baru ditemukan ini, akan tetapi, menurut para astronom, ia hanya bisa dideteksi oleh sensor generasi mendatang yang akan hadir di teleskop penerus Hubble.

“Kita sudah semakin dekat untuk mendapati galaksi pertama yang diperkirakan terbentuk 200 sampai 300 juta tahun setelah Big Bang,” kata Garth Illingworth, profesor astronomi dan astrofisika dari University of California, Amerika Serikat.

Galaksi ini, kata Illingworth, seperti dikutip dari Cosmosmagazine, 27 Januari 2010, berusia jauh lebih tua dibanding galaksi yang sudah ditemukan sebelumnya.

“Kami menghabiskan waktu uji coba selama berbulan-bulan untuk memastikan. Kini kami cukup yakin bahwa inilah galaksi tertua yang pernah ditemukan,” kata Illingworth. “Jika dibandingkan dengan galaksi Bima Sakti kita, ukuran galaksi ini 100 kali lebih kecil,” ucapnya.

Sama seperti pesatnya jumlah bintang yang ditemukan, demikian pula dengan jumlah galaksi. Fakta ini mendukung teori bahwa terbentuknya galaksi ditempa oleh daya tarik gravitasi oleh apa yang disebut dengan dark matter.

Sebagai informasi, astronom mengukur usia bintang menggunakan apa yang disebut dengan redshift. Semakin jauh sinar tersebut berjalan, semakin panjang dan semakin merah menjadi panjang gelombangnya.

Angka redshift yang tinggi mengindikasikan bahwa objek yang memancarkan sinar tersebut berusia tua karena cahaya yang dipancarkan telah menempuh miliaran tahun cahaya untuk tiba di bumi, setelah melewati alam semesta yang terus meluas.

Adapun galaksi yang baru ditemukan itu, yakni UDFj-39546824, ditemukan di sebuah sektor langit berukuran seujung jari yang disebut Hubble Ultra-Deep Field. Ia ditemukan saat Hubble melakukan pemindaian selama 87 jam pada tahun 2009 dan 2010 lalu.

Setelah ditemukan, astronom kemudian menghitung redshift yang ada dan nilainya mencapai 10,3. Galaksi tertua yang ditemukan Oktober lalu oleh sekelompok astronom internasional hanya memiliki nilai redshift sebesar 8,6.

Temuan galaksi baru ini dimungkinkan oleh Wide Field Camera 3 yang dipasang di Hubble Space Telescope oleh astronot NASA pada Mei lalu. Kamera baru itu mendongkrak kemampuan Hubble setidaknya 30 persen dibanding sebelumnya.

Akan tetapi, kemampuan menangkap redshift hingga 10,3 tampaknya merupakan batas maksimal. Untuk menangkap redshift lebih dari itu, astronom tampaknya membutuhkan James Webb Space Telescop yang baru akan diluncurkan NASA pada 2014 mendatang []