Showing posts with label palaentologi. Show all posts
Showing posts with label palaentologi. Show all posts

Kaktus Berjalan - adalah hewan, bukan tanaman
Hewan air ini diperkirakan sebagai kerabat dari nenek moyang arthropoda.

Kaktus berjalan (Discovery News)
Makhluk ini bukanlah tanaman, melainkan seekor hewan. Tak punya mata, atau bahkan mungkin tak punya kepala, dengan kaki yang mirip ranting berkulit keras dipenuhi oleh duri.
Fosil hewan berkaki 20 itu ditemukan di sebelah barat daya China oleh ilmuwan dari Northwest University Xi'an China bernama Jianni Liu.
Karena mirip dengan tanaman kaktus, maka mahluk ini dinamakan sebagai 'kaktus berjalan'.
Menurut Liu, hewan yang diberi nama Diania cactiformis itu hidup sekitar 520 juta tahun silam, di sepanjang dasar perairan dangkal.
Secara taksonomi, Liu mengatakan bahwa hewan ini masuk dalam grup Lobopodian, yakni cacing dengan kaki-kaki.
Kaktus air ini diperkirakan sebagai kerabat dari nenek moyang arthropoda. "Pentingnya temuan ini adalah karena arthropoda dalam terminologi spesies, adalah grup yang paling sukses di bumi," kata Liu, dikutip dari Discovery News.
Reconstruction of Diania cactiformis.
Rahasia kesuksesan mereka, Liu menambahkan, adalah kaki mereka. Organ itu berevolusi menjadi berbagai jenis bentuk, seperti membentuk cakar, insang, kaki kayuh, atau  kaki peluncur untuk melompat.
Menurut Jan Bergstrom dari Swedish Museum of Natural History Stockholm, hewan ini memang bukan nenek moyang langsung daripada arthropoda. Namunm ia mengisi kekosongan yang ada pada mosaik evolusi.


Sumber: Rimanews vivanews

Jangkrik Pemakan Daging dari Zaman Dinosaurus

Sebuah fosil serangga predator dari zaman dinosaurus baru-baru ini ditemukan di lapisan kapur yang terletak di wilayah utara Brazil. Serangga ini adalah serangga karnivora pemakan daging yang berasal dari 100 juta tahun silam.
Nenek moyang jangkrik itu hidup di periode Cretaceous, sesaat sebelum superbenua Gondwana (superbenua yang mencakup benua Afrika, Amerika Selatan, Australia, India, Arab, dan Antartika saat ini) terpecah.
Seperti dikutip dari situs LiveScience, ia berasal dari genus Schizodactylus atau jangkrik berkaki miring. Genus Schizodactylus mencakup jangkrik yang ada saat ini, belalang, serta binatang bernama katydid.[]
"Nama ini mereka dapatkan sesuai dengan kaki yang mereka miliki yang membuat mereka bisa melenting dan menyokong tubuh mereka di habitat berpasir untuk memburu mangsa mereka," kata Sam Heads, Ketua peneliti yang menemukan fosil ini.
Saat berburu, kata Heads, spesies ini sebenarnya tak menggunakan strategi khusus. Serangga bertubuh tambun ini keluar malam hari menyisir habitat mereka untuk mencari mangsa. "Mereka bisa bergerak dengan cepat bila diperlukan... dan mereka cukup rakus," ujar Sam yang berasal dari University Illinois itu.
A splay-footed cricket called Schizodactylus monstrosus (shown) is a living descendant of the newly identified fossil, and the two would've been about the same size. Credit: Sam Heads.
Setidaknya, ia memiliki perbedaan dengan jangkrik yang ada saat ini. Dengan panjang sekitar 6 cm dari kepala hingga ke bagian belakang tubuhnya, ia memiliki postur yang agak aneh.
Antenanya lebih panjang dari tubuhnya. Jangkrik ini juga memiliki sayap yang tergulung dan kaki yang tajam seperti sepatu salju. Menurut Heads, ini untuk mendukungnya tetap bisa menjejak di daerah berpasir.
Namun, jangkrik yang sangat agresif ini tak bisa terbang walaupun memiliki sayap. Sayapnya, kata Heads biasanya hanya bisa dimekarkan saat diperlukan. Secara umum, kata Heads, jangkrik ini tidak begitu banyak mengalami evolusi atau mengalami periode 'evolutionary stasis' selama paling tidak 100 juta tahun. [Sumber:vivanews]

3.000 Jejak Kaki Dinosaurus Terlacak di China

Dalam catatan saya kali ini, saya akan menulis tentang "3.000 Jejak Kaki Dinosaurus Terlacak di China".


VIVAnews - Arkeolog China menemukan lebih dari 3.000 jejak langkah kaki dinosaurus yang semuanya menunjuk ke arah yang sama, Sabtu 6 Februari 2010. Jejak kaki yang diduga milik enam jenis dinosaurus tersebut ditemukan di Provinsi Shandong timur.

Seperti dikutip dari laman stasiun televisi BBC, arkeolog yakin bekas telapak kaki tersebut berusia lebih dari 100 juta tahun.[]

Arkeolog mengatakan, jejak kaki itu menunjukkan adanya migrasi dinosaurus atau usaha melarikan diri dari predator. Fosil dinosaurus sendiri ditemukan di sekitar 30 lokasi di wilayah Zhucheng. Karena itu, Kota Zhucheng terkenal dengan sebutan “kota dinosaurus”.

Jejak langkah kaki tersebut ditemukan para arkeolog setelah tiga bulan eksplorasi. Penemuan ini termasuk penemuan langka karena kuantitas dan ukuran langkah kaki itu jelas terlihat.

Jejak kaki yang berukuran antara 10 hingga 80 sentimeter tersebut diduga kuat milik dinosurus antara lain tyrannosaurs, coelurosaurs, dan hadrosaurs. []

penyebab musnahnya dinosaurus adalah Asteroid Raksasa?


Dalam catatan saya kali ini, saya akan menulis tentang "penyebab musnahnya dinosaurus adalah Asteroid Raksasa?"

Info dari VIVAnews dituliskan bahwa - Misteri punahnya dinosaurus 65,5 juta tahun lalu terpecahkan. Dalam sebuah panel internasional, Kamis lalu, para ilmuwan mencapai satu kesimpulan bahwa binatang purba itu punah karena sebuah asteroid raksasa menghantam Bumi, tepatnya di negara bagian Yucatan, Meksiko.]

Kesimpulan ini sekaligus mengakhiri perbedaan pendapat di kalangan para ilmuwan mengenai penyebab musnahnya dinosaurus.

Sebuah panel beranggotakan 41 ilmuwan dari berbagai negara mengadakan penelitian selama 20 tahun untuk mencari kebenaran penyebab kepunahan massal yang disebut Kretaseus-Tersier(KT) tersebut. Jatuhnya asteroid raksasa itu menciptakan tempat hidup yang tidak kondusif sehingga memusnahkan lebih dari setengah spesies di muka Bumi.

"Dunia dengan cepat berubah karena efek dari hantaman itu, dan semua hal menjadi sangat buruk setidaknya hingga satu dekade kemudian," kata Jim Melosh, profesor di bidang ilmu pengetahuan Bumi dan atmosfer dari Universitas Purdue, Amerika Serikat, sekaligus salah satu penulis studi yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Jumat, 5 Maret 2010 tersebut, kepada Daily News.

Melosh dan kawan-kawan memperkirakan bahwa selama sepuluh tahun setelah hantaman asteroid itu, sekitar 90 persen makhluk bumi punah. Bahkan predator seperti Tyranosaurus tidak mampu bertahan dari dampak asteroid seluas 7,5 mil dengan dampak yang miliaran kali lebih hebat dibanding ledakan atom Hiroshima.

Hantaman asteroid ini, menurut Melosh, menimbulkan badai kematian dan kerusakan. "Hantaman asteroid yang jatuh dengan kecepatan tinggi menciptakan kawah. Puing-puing terbang ke angkasa seperti rudal balistik, turun kembali ke atmosfer, menimbulkan panas berkekuatan 10 matahari di saat siang, sehingga kemungkinan kulit dinosaurus melepuh dan juga menyebabkan kebakaran hutan," tutur Melosh.

Bencana tidak berhenti sampai di situ. Asteroid rupanya jatuh di lokasi yang kaya belerang. Saat belerang bercampur dengan uap air di angkasa setelah terpental ke atas, tercipta awan yang menutupi matahari selama sekitar sepuluh tahun dan menimbulkan hujan asam.

Data yang ditemukan 41 ilmuwan tersebut juga mengungkapkan adanya kandungan iridium dalam konsentrasi tinggi pada lapisan-lapisan batu yang dijadikan sampel. Kandungan iridium pada lapisan-lapisan itu sesuai dengan periode tumbukan asteroid. Iridium adalah sebuah elemen pada meteor.

Studi juga menyebutkan bahwa semua teori tentang kepunahan dinosaurus, termasuk ledakan vulkanis hebat di India pada periode tersebut dipandang tidak tepat. []

Ditemukan, Embrio Dinosaurus Tertua di Dunia

Dalam catatan saya kali ini, saya akan menulis tentang "Ditemukan, Embrio Dinosaurus Tertua di Dunia".
Diperkirakan muncul sekitar 190 juta tahun yang lampau.
VIVAnews - Sejumlah ahli paleontologi, atau disebut pula dengan ahli fosil, baru-baru ini mengidentifikasi embrio dinosaurus tertua di dunia. Hal itu dipaparkan di Journal of Vertebrate Paleontology.

Embrio yang jumlahnya lebih dari satu itu, ditemukan dalam telurnya dan masih terawat dengan baik. Diperkirakan usianya sesuai dengan jaman di mana dinosaurus masih berkeliaran, sekitar 190 juta tahun yang lampau.


]

Peneliti mengatakan, sampai saat ini, embrio tersebut adalah embrio tertua untuk vertebrata darat. Lalu, dinosaurus jenis apa yang memiliki embrio tertua itu?

Massospondylus, salah satu leluhur raksasa dari kelompok prosauropod, dinosaurus pemakan tumbuh-tumbuhan. Cukup mudah mengenali Sauropoda. Ia mempunyai empat kaki, berleher dan berekor panjang.

Profesor Robert Reisz dari University of Toronto Mississauga bersama beberapa rekannya adalah sang penemu embrio. Mereka menemukannya saat tengah menganalisis fosil telur yang ditemukan di Afrika Selatan. Ketika itu, Asisten Reisz, Diane Scott, langsung mengamatinya dengan mikroskop berkemampuan tinggi yang dikompilasi dengan ilustrasi.

"Saya yakin tidak ada orang lain yang melakukan pekerjaan ini sebelumnya," kata Reisz. Embrio yang ditemukan timnya masih terjaga baik dan memiliki rekonstruksi kerangka secara lengkap beserta anatominya secara rinci.

Ilustrasi Massospandylus, salah satu jenis dinosaurus pemakan tumbuh-tumbuhan
Dari temuan tersebut, embrio Massospandylus diketahui memiliki panjang nyaris delapan inci, berkaki empat, leher relatif panjang, besar kepalanya tak proporsional. Sebaliknya, fosil Massospandylus dewasa mempunyai panjang 16,5 kaki, kepalanya relatif kecil, berleher panjang, kemungkinan berjalan hanya dengan dua kakinya.

Dengan temuan ini, dapat disimpulkan sementara bahwa ketika embrio tersebut dewasa, leher dan tulang belakangnya tumbuh sangat cepat dibandingkan tungkai depan dan kepala mereka.

"Proyek ini membuka jendela baru tentang sejarah awal dan evolusi dinosaurus," ujar Reisz. "Prosauropod adalah dinosaurus pertama yang memiliki keanekaragaman secara luas. Mereka juga menjadi kelompok yang mudah tersebar, sehingga biologi mereka sangat menarik untuk diteliti karena mewakili awal kehidupan dinosaurus di jaman purba," kata tandasnya. (MSNBC)

[]

Tiga Spesies Dinosaurus Baru Ditemukan

Dalam catatan saya kali ini, saya akan menulis tentang "Tiga Spesies Dinosaurus Baru DitemukanTiga Spesies Dinosaurus Baru Ditemukan"


Salah satu spesies merupakan predator mengerikan dengan tiga cakar tajam di setiap tangan.VIVAnews - Paleontolog Australia mengaku menemukan tiga spesies dinosaurus baru setelah memeriksa penggalian fosil di Queensland. Dalam jurnal Public Library of Science (PLOS) One, mereka menyebutkan salah satu spesies merupakan predator mengerikan dengan tiga cakar tajam di setiap tangan.
\/

Paleontolog Museum Queensland Scott Hucknell mengatakan karnivora yang dinamai Australovenator wintonensis ini lebih besar dan berbahaya dibanding velociraptor yang muncul dalam film Jurassic Park.

"Karnivora ini sangat cepat dan dapat memangsa buruannya dalam waktu singkat di wilayah terbuka," kata Hucknell seperti dikutip laman stasiun televisi BBC.

Sementara dua dinosaurus lain merupakan herbivora. Salah satunya memiliki struktur tubuh tinggi mirip jerapah, dan fosil lainnya seperti kudanil. Tiga fosil yang ditemukan di pegunungan batu Formasi Winton ini berasal dari masa 100 juta tahun lalu hingga periode Cretaceous.

Tiga dinosaurus itu dinamai sesuai karakter dalam lagu terkenal Australia, Waltzing Matilda. Karnivora dinamai Banjo Patterson, komposer lagu itu. Sementara dinosaurus mirip jerapah dengan nama latin Witonotitan wattsi, diberi nama Clancy. Dinosaurus yang menyerupai kudanil, Diamantinasaurus matildae dipanggil Matilda.

Dua herbivora berkaki empat ini termasuk dalam keluarga titanosaurus, hewan terbesar di muka bumi.

Banjo dan Matilda, diduga predator dan buruannya, ditemukan dalam satu lokasi dalam kolam stagnan berusia 98 juta tahun.

Gubernur Queensland Anna Bligh mengatakan penemuan ini merupakan terobosan besar dalam upaya memahami kehidupan prasejarah di Australia. Sementara paleontolog Museum Victoria John Long menyebut penemuan ini luar biasa.

"Penemuan ini menempatkan Australia kembali dalam peta penemuan dinosaurus dunia sejak 1981, saat Muttaburrasaurus ditemukan," kata Long.

Tiga spesies ini akan menjadi bagian Periode Dinosaurus dalam Museum Sejarah Alam Australia yang sedang dibangun di Winton. Saat selesai, 2015 mendatang, seksi ini akan menjadi pusat pameran dan penelitian koleksi dinosaurus Australia.
/

Berapa Besar Ukuran Bayi Dinosaurus?

Dalam catatan saya kali ini, saya akan menulis tentang "Berapa Besar Ukuran Bayi Dinosaurus? " Dinosaurus yang berukuran besar sekalipun ternyata memiliki bayi yang ukurannya kecil.
VIVAnews --Gambaran kita tentang dinosaurus umumnya adalah binatang purba berbadan besar. Padahal, dinosaurus memiliki jenis dan ukuran berbeda. Demikian pula dengan bayinya.

Seperti dimuat laman Lifeslittlemysteries, telur dinosaurus terkecil yang ditemukan hanya berukuran beberapa centimeter. Telur yang besarnya mirip telur ayam itu milik dinosaurus jenis Sinosauropteryx.

Seperti yang dilaporkan para peneliti di Jurnal Ilmu Alam, 'Nature' pada 1999, telur itu ditemukan di perut Sinosauropteryx yang sudah menjadi fosil.

Telur itu berukuran 1,5 inchi atau sekitar 4 centimeter panjang dan lebar 1 inchi atau 2,5 centimeter, lebih kecil dari telur ayam.

Bahkan, dinosaurus besar pun memiliki bayi kecil. Pada tahun 2005, makalah pengetahuan melaporkan penemuan embrio dengan panjang 6 inchi atau sekitar 15 centimeter.

Embrio itu berasal dari dinosaurus jenis Massospondylus -- pemakan tanaman yang saat dewasa bisa memiliki tubuh sepanjang lima meter.

Sementara, Maiasaurus yang ukuran dewasanya bisa sepanjang bus sekolah, saat menetas dari telur hanya berukuran 1 kaki atau sekitar 30 centimeter.

Demikian pula dengan spesies Camarasaurus, bayi yang berukuran 1 meter bisa tumbuh sepanjang 59 kaki atau 18 meter ketika dewasa.

Untuk mencapai ketinggian maksimal, raksasa prasejarah itu punya pendorong pertumbuhan yang mengagumkan.

Menggunakan data pertumbuhan tulang, peneliti memperkirakan untuk mencapai berat dewasa 25.952 kilogram, bayi spesies Apatosaurus tumbuh lebih dari 14 kilogram per hari -- sama dengan ikan paus modern -- seperti dimuat makalah dalam Jurnal Nature 2001.

UOIUI

Mirip Manusia, Amuba Juga Bertani

Pertanian adalah salah satu kunci peradaban manusia berkembang. Tapi amuba juga bertani VIVAnews - Bertani atau bercocok tanam merupakan salah satu kunci evolusi peradaban manusia. Namun tak disangka, amuba, hewan bersel satu, juga melakukan praktik serupa.

Adalah sekelompok peneliti di Texas, Amerika Serikat, menemukan secara tak sengaja sejumlah amuba melakukan ini. Amuba jenis Dictyostelium discoideum ini ketahuan bertani bakteri saat bersama-sama puluhan ribu amuba lainnya membentuk gumpalan multisel untuk berpindah dan membawa sejumlah bakteri bersama mereka.

Dalam riset yang dilansir Nature1, Rabu 19 Januari 2011 itu, bakteri yang dibawa itu kemudian dibiarkan berkembang biak di gumpalan mereka. Mereka mengutamakan memakan bakteri yang ditemui di sepanjang jalan dulu. Jika sudah tak ada yang bisa dimakan, barulah "hasil pertanian" mereka yang menjadi sasaran.

Debra Brock, biolog molekuler dari Universitas Rice, Houston, yang memimpin riset itu menyatakan awalnya para peneliti berpikir para amuba ini semata hidup dari berburu bakteri. Namun, mereka menemukan kira-kira sebagian dari amuba yang mereka teliti ketika disodorkan makanan berhenti makan duluan dan memilih "menyelamatkan" bakteri di bagian reproduksi mereka.

Namun, para amuba petani ini memiliki kerugian sendiri ketika berada di lokasi yang penuh makanan. Mereka kurang aktif menghasilkan keturunan karena memilih tak memakan bakteri yang mereka temukan. Mereka kalah oleh waktu.

Selain itu, para amuba petani juga bepergian lebih sedikit. Ini tentu karena pertimbangan mereka memiliki persediaan makanan cadangan, jadi untuk apa pergi jauh-jauh mencari makanan.

Michael Purugganan, biolog dari New York University, melihat perangai Dictyostelium ini mirip dengan manusia yang cenderung untuk menetap. "Mereka sedikit bermigrasi karena mereka bertani? Ini terdengar seperti yang terjadi pada manusia ketika pertanian dimulai," katanya.