Kisah Letusan Super Gunung Tambora dan The Year Without Summer

Baru-baru ini di Indonesia sering dilanda bencana letusan gunung berapi, seperti Gunung Merapi dan Gunung Bromo. Nah, ngomong-ngomong soal gunung berapi nih, saya kok malah tertarik ya untuk nyari artikel tentang gunung berapi Tambora. Katanya Tambora adalah gunung yang dikenal di seluruh dunia karena kedahsyatannya. Seperti apa ya kedahsyatannya, yuk baca tulisan catatan saya berikut.

Gunung Tambora merupakan salah satu dari tiga gunung di Indonesia yang pernah meletus dengan dahsyat selain Pusuk Buhit di Toba, dan Krakatau. Sekarang, ketiga gunung tersebut berada dalam pantauan ketat. Siapa tahu dapat meletus lagi, tetapi semoga saja tidak. Tahu tidak, dalam sejarah tidak ada gunung lain yang letusannya setara dengan Tambora.

Gn Rinjani, Gn Tambora dan Gn Sangeangapi di Sumbawa
Klik gambar untuk melihat

Sebenarnya pernah terjadi juga letusan besar di Yellowstone yang juga berkelas mega-colossal memiliki derajat letusan, VEI=8 (Volcanic Explosion Index). Tapi yellowstone ini terjadi 2 Ma (dua juta tahun yang lalu), demikian juga Letusan Toba pada 74.000 tahun yang lalu. Namun, baik Yellowstone maupun Toba tidak punya banyak catatan sejarah yang pasti, sebab belum ada (peradaban) manusia kala itu. Sedangkan letusan Gunung Krakatau di skala letusan VEI= 6 dan Tambora di skala VEI=7.



Berikut indeks letusan gunung berapi (VEI) dari wikipedia:
VEI
Volcano (eruption)
Tahun
0
Hoodoo Mountain
7050 BC?
Mauna Loa
1984
Piton de la Fournaise
2004
1
Wells Gray-Clearwater volcanic field
1500?
Kilauea
1983 – present
Nyiragongo
2002
2
Mount Hood
1865-1866
Kilauea
1924
Tristan da Cunha
1961
Mount Usu
2000-2001
Whakaari/White Island
2001
3
Mount Garibaldi
9,300 BP
Nazko Cone
7,200 BP
Mount Edziza
950 AD ± 1000 years
Mount Vesuvius
1913-1944
Surtsey
1963-1967
Eldfell
1973
Nevado del Ruiz
1985
Mount Etna
2002-2003
4
Mount Pelée
1902
Parícutin
1943-1952
Hekla
1947
Galunggung
1982
Mount Spurr
1992
Chaiten
2008
Mount Okmok
2008
5
Hekla (Hekla 3 eruption)
1021 + 130/-100 BC
Mount Meager
≈400 BC (2350 BP)
Mount Vesuvius (Pompeian eruption)
79
Mount Edgecumbe/Pūtauaki
c. 300
Mount Tarumae
1739
Mount Tarawera
1886
Mount Agung
1963
Mount St. Helens (1980 eruption)
1980
El Chichón
1982
Lake Nyos
1986
Mount Hudson
1991
6
Morne Diablotins
30,000 BP
Nevado de Toluca
10,500 BP
Mount Okmok
8300 BP
Mount Etna
8000 BP?
Mount Veniaminof
1750 BC
Mount Vesuvius (Avellino eruption)
1660 BC ± 43 years
Mount Aniakchak
≈1645 BC
Mount Okmok
c. 400 BC
Ambrym
c. AD 100
Ilopango
450 ± 30 years
Mount Churchill (White River Ash)
≈750 (1200 BP)
Laki (Eldgjá)
934
Baekdu Mountain (Tianchi eruption)
969 ± 20 years
Kuwae
1452 or 1453
Huaynaputina
1600
Laki
1783
Krakatoa
1883
Santa María
1902
Novarupta
1912
Mount Pinatubo
1991
7
Bennett Lake Volcanic Complex
50 Ma
Valles (Lower Bandelier eruption)
1.47 Ma
Yellowstone (Mesa Falls eruption)
1.3 Ma
Valles (Upper Bandelier eruption)
1.15 Ma
Long Valley Caldera (Bishop eruption)
759,000 BP
Manijau
280,000 BP
Atitlán (Los Chocoyos eruption)
84,000 BP
Kurile (Golygin eruption)
41,000 BP
Campi Flegrei
37,000 BP
Aira Caldera
22,000 BP
Laacher See
12,900 BP?
Kurile (Ilinsky eruption)
6440 BC ± 25 years
Crater Lake, Oregon (Mount Mazama eruption)
5677 BC ± 150 years
Kikai (Akahoya eruption)
≈5300 BC
Thera (Minoan eruption)
1620s BC
Taupo (Hatepe eruption)
186
Mount Tambora
1815
8
Scafells
Ordovician
Glen Coe
420 Ma
La Garita Caldera
27 Ma
Yellowstone (Huckleberry Ridge eruption)
2.2 Ma
Galán
2.2 Ma
Yellowstone (Lava Creek eruption)
640,000 BP
Toba
73,000 BP
Taupo (Oruanui eruption)
26,500 BP
Source: http://en.wikipedia.org/wiki/Volcanic_Explosivity_Index

Nah, tidak salah jika dikatakan bahwa letusan Gunung Tambora ini terbesar dalam sejarah dimana zaman sudah terdapat peradaban manusia. Letusan gunung ini memberikan pelajaran pada manusia akan bencana, karunia serta ujian pada eksistensi peradaban. Berikut adalah gambar kawah Gunung Tambora yang baru saja saya capture dari Google Earth.

Gunung Tambora
Klik gambar untuk melihat

Sekarang, meski sudah tak lama aktif, Tambora masih menarik perhatian. Astronot Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), pada tahun 2009, NASA mengabadikan kaldera Tambora dari luar angkasa.

Foto Kawah Gunung Tambora, bidikan NASA Tahun 2009
Klik gambar untuk melihat

Kaldera Tambora berdiameter 6 kilometer dan sedalam 1.100 meter. Kawah ini terbentuk saat Tambora yang saat itu tingginya sekitar 4.300 meter kehilangan puncaknya dan ruang magma dikosongkan dalam letusan dahsyat tahun 1815. 

Dalam foto NASA, tampak kawah Tambora menjadi danau air tawar, yang juga diisi aliran lava minor dan kubah dari abad ke-19 dan ke-20.  Deposit tephra -- material campuran letusan gunung berapi -- bisa dilihat dari sepanjang pinggiran kawah barat laut. Fumarol aktif atau ventilasi uap, masih eksis di kaldera Tambora.

Singkat cerita letusan Gunung Tambora: Setelah sempat 'batuk-batuk' pada 5-10 April 1815,  Gunung Tambora di Sumbawa akhirnya meletus dahsyat. Getarannya mengguncangkan bumi hingga jarak ratusan mil. Dampaknya tak hanya dirasakan di wilayah Indonesia, tapi juga seluruh dunia. Jutaan ton abu dan debu muncrat ke angkasa memenuhi udara, mengubah siang hari menjadi gelap gulita (kegelapan di Bumi). Letusan Tambora berakibat luar biasa dan dahsyat, tak hanya kehancuran dan kematian massal yang terjadi wilayah Hindia Belanda, efeknya bahkan mengubah iklim dunia. Petaka dirasakan di Eropa dan Amerika Utara. Sampai pada tahun 1816 dijuluki 'The Year without Summer', tahun tanpa musim panas.

Kisah meletusnya Gunung Tambora
Gunung Tambora di Pulau Sumbawa di Hindia Belanda (kini Indonesia)  dikabarkan mulai aktif sekitar tahun 1812. Kisah meletusnya Gunung Tambora diawali pada 5 April 1815 sore dimana gunung berapi Tambora mulai bergemuruh dan 'batuk -batuk'.  Kondisi ini terjadi dalam beberapa hari sampai tanggal 10 April 1815. Jadi, lebih dahulu Tambora dibanding Krakatau yang meletus pada tahun 1883.

April 5, 1815: Ledakan terdengar di daerah sekitar Tambora – Bahkan sampai Batavia (Jakarta), lebih dari 1200 km. !
April 6, 1815 :  abu sudah mulai jatuh, lebih banyak ledakan terjadi
April 10, 1815, 7: Tiga (?) Ventilasi aktif sebagai letusan memuncak.
     8-9 PM:  Cerobong mulai menyatu (?) Ke dalam satu lubang dari “api cair” (menurut pengamat di Tambora, 20 km jauhnya. 20 cm batu apung dan abu turun di Sanggar (30 km). Kolom abu ini diyakini telah menembus stratosfer (> 17 km / 55.000 kaki). Material ini seperti  disuntikkan oleh aktivitas vulkanik beserta material lain berupa sulfur dan aerosol ke stratosfer. 
     10-11 PM: “Violent wing” /angin badai mengangkat pohon di Sanggar. Mungkin ini adalah keruntuhan kolom letusan. Tercatat 1-4m tsunami melanda banyak pantai dari Kepulauan Indonesia.
     Setelah 10 (mungkin maksudnya setelah jam 12 malam, jadi sudah lewat tanggal 10): batuan piroklastik mengalir dan pembentukan kaldera. Menghancurkan  Tambora (desa). Gegar swara dan rasa ketakutan dari letusan terasa lebih dari 1000 km jauhnya.

Kemudian, pada 11 dan 12 April 1815 letusan Gunung Tambora mencapai klimaksnya. Gunung besar itu meletus, getarannya mengguncangkan bumi hingga jarak ratusan mil.

 April 11: ledakan keras terdengar lebih dari 2500 km jauhnya, abu berterbangan hingga sejauh Jawa Barat dan Pulau Sulawesi. Bau nitrogen tercium hingga Batavia (Jakarta). Kedua kalinya terasa tsunami kecil di Madura, dan utara Jawa.
 April 12: 80% dari total volume abu telah jatuh. Dan terus jatuh di banyak tempat sampai tanggal 17 April (5 hari). Ledakan terhenti pada tanggal 15 April, tetapi awan abu gunung berapi mengelilingi hingga tanggal 23 April.
Setelah tanggal 12-17 April:  Berkilometer lebarnya sebuah “perahu” dari batu apung dengan pepohonan yang tumbang ditemukan di laut. Ledakan masih ada yang dilaporkan, tetapi tidak lagi terdengar pada pada bulan Agustus 1815. Dan juga pijaran “api” juga dilaporkan namun  tidak terdengarlagi setelah akhir 1819.

Selama lebih dari 10 hari, Tambora mengeluarkan 24 kubik mil (1 mil = 1,6 kilometer) lava dan bebatuan gunung. Saking dahsyatnya, di puncak Tambora tercipta kawah selebar tiga mil dan dalamnya hampir 1 mil.

Lelehan lava panas, batu yang berterbangan, dan gas mematikan yang keluar dari perut Tambora saat itu menewaskan puluhan ribuan orang. Jutaan ton abu dan debu memenuhi udara, mengubah siang hari menjadi gelap gulita. Debu tebal menyelimuti wilayah kaki gunung dan bahkan Bali.

Debu menutup semua vegetasi di Pulau Bali dan menyelimuti lautan. Sekitar 117.000 orang di wilayah yang dulu dikenal sebagai Hindia Belanda tewas. Banyak dari mereka terkena imbas letusan,  jadi korban kelaparan dan penyakit.

Itu baru permulaan.

Letusan Tambora juga mengakibatkan ledakan di lapisan troposfer -- lapisan terdekat dari permukaan Bumi, di mana awan, angin, dan hujan, serta 75 persen dari berat atmosfer berada.

Semburan Tambora juga menyobek lapisan tipis ozon yang melindungi Bumi dari radiasi sinar matahari.

Karena daya tarik gravitasi yang ringan di angkasa, abu dan debu Tambora melayang dan menyebar mengelilingi dunia. Debu Tambora menetap di lapisan troposfer selama beberapa tahun dan turun melalui angin dan hujan kembali ke Bumi.

Letusan Tambora juga mengakibatkan gagal panen di China, Eropa, dan Irlandia. Hujan tanpa henti selama delapan minggu memicu epidemi tifus yang menewaskan 65.000 orang di Inggris dan Eropa. Kelaparan melumpuhkan di Inggris.

Dimulainya The Year Without Summer
Tahun 1816 dijuluki 'The Year without Summer', tak ada musim panas di tahun  itu, juga dikenal sebagai Tahun Kemiskinan dan Seribu delapan ratus dan membeku hingga mati.
Semenjak letusan Gunung Tambora tahun 1815 yang sudah melontarkan lebih dari satu setengah juta ton – atau 400 km³ – debu ke lapisan atas atmosfer, telah membuat bumi dipenuhi kegelapan. Karena berkurangnya cahaya matahari yang menyinari bumi, suhu lingkungan di bumi menurun, dan timbul kedinginan berkepanjangan , dan terjadi penyimpangan iklim di dunia.

Penyimpangan iklim yang luar biasa pada 1816 menimbulkan pengaruh yang sangat hebat di Amerika timur laut, Kanada Maritim dan Eropa utara. Biasanya, pada akhir musim semi dan musim panas di Amerika timur laut cuacanya relatif stabil: temperatur rata-rata sekitar 20–25°C, dan jarang sekali turun hingga di bawah 5°C. Salju musim panas sangat jarang terjadi, meskipun kadang-kadang turun pada bulan Mei.
Namun pada Mei 1816 frost (pembekuan) mematikan sebagian besar tanaman yang telah ditanam, dan pada bulan Juni dua badai salju mengakibatkan banyak orang yang meninggal. Pada Juli dan Agustus, danau dan sungai yang membeku dengan es terjadi hingga di Pennsylvania yang jauh di selatan. Perubahan temperatur yang cepat dan dramatis lazim terjadi, dengan temperatur yang bergeser dari yang normal dan di atas normal pada musim panas, yaitu 35°C hingga hampir membeku hanya dalam beberapa jam saja. Meskipun para petani di selatan New England berhasil menuai panen yang masak, harga jagung dan biji-bijian lainnya meningkat secara dramatis. Harga haver, misalnya, meningkat dari 12 sen dolar sekarungnya (ukuran 35 1/4 liter) pada tahun sebelumnya menjadi 92 sen dolar Amerika.
Sebuah koran lokal di Amerika Serikat, The Saratogian, 15 Agustus 2010. memuat cerita sejarahwan, Maurice Morley tentang nestapa yang disebabkan meletusnya Gunung Tambora.

Foto lawas dampak letusan Tambora
di Amerika Serikat (Maurice Morley | Saratogian.com)
Klik gambar untuk melihat

Menurut Morley, salah satu untuk tetap tenang menghadapi panasnya cuaca, kondisi berkabut, lembabnya malam saat ini adalah mengingat 'The Year Without Summer' atau 'tahun tanpa musim panas', ketika suhu sangat dingin, manusia dan hewan membeku, panen gagal, dan orang-orang ketakutan mengira saat itu akhir dunia akan segera tiba.

Menurut sebuah artikel surat kabar lama, tumpukan salju hampir setinggi satu kaki turun di Ballston Spa, AS semalaman. Penduduk membundel tubuhnya dari kepala sampai kaki. Meski demikian, ada saja yang tewas membeku. Beberapa orang bahkan memilih  bunuh diri karena yakin Matahari sedang membeku dan Bumi akan segera hancur, dan kiamat.

"Angin yang bertiup Juni, Juli, Agustus 1816 terus bertiup dari utara, keras, dan dingin," demikian dilaporkan surat kabar lawas tersebut.

Meski tanaman mati, petani tetap bercocok tanam, dengan sarung tangan, mereka menebar benih jagung.

"Selama Juli-Agustus, tumpukan salju makin tinggi. Pada 30 Agustus 1816 bahkan ada badai besar. Hanya ada kesuraman sepanjang musim panas itu, tidak ada pemandangan hijau di manapun."

Dikutip dalam koran itu, sebuah cerita bagaimana seorang wartawan, James Winchester menemukan pamannya tewas terkubur dan kaku di salju saat mencari dombanya.  Meski suhu sempat menghangat di bulan September 1816, rasa takut tetap mendera, bahkan di hati orang beriman sekalipun.

Seorang pria tua, James Gooding, teramat sangat putus harapan. Dia membunuh semua sapinya, lalu menggantung diri. Dia bahkan menganjurkan hal yang sama pada istrinya. Alasannya, menghindari kematian karena dingin dan kelaparan, yang ia yakini tak terelakan.

Efek samping lain  letusan Gunung Tambora
Banyak sejarahwan yang menyebutkan tahun tanpa musim panas ini sebagai motivasi utama untuk terbentuknya dengan segera pemukiman yang kini disebut sebagai Barat Tengah Amerika. Banyak penduduk New England yang tewas karena tahun itu, dan puluhan ribu lainnya berusaha mencari tanah yang lebih subur dan kondisi-kondisi pertanianyang lebih baik di Barat Tengah Hulu (saat itu merupakan Wilayah Barat Laut) . (Sebuah contoh spesifik tentang hal ini adalah ketika keluarga Joseph Smith yang kemudian menjadi pendiri Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir pindah dari Sharon, Vermont ke Palmyra, New York di negara bagian New York yang jauh di barat setelah beberapa kali panen yang gagal.) Sementara hasil panen memang buruk selama beberapa tahun, pukulan yang terakhir terjadi pada 1815 dengan letusan Tambora.
Letusan Tambora ini juga menyebabkan Hongaria mengalami salju coklat. Italia mengalami sesuatu yang serupa, dengan salju merah yang jatuh sepanjang tahun. Hal ini diyakini disebabkan oleh debu vulkanik di atmosfer.

Di Eropa, Tambora juga jadi salah satu pemicu kerusuhan di Perancis yang warganya kekurangan makanan dimana sampai mengubah sejarah saat Napoleon kalah akibat musim dingin berkepanjangan dan kelaparan pada 1815 di Waterloo.

Sementara warga masih memulihkan diri dari Perang Napoleon, warga juga menderita karena kekurangan makanan. Banyak terjadi kerusuhan untuk berebut makanan. Banyak gudang-gudang gandum dijarah. Hal ini terjadi di Britania Raya dan Prancis. Kekerasan yang paling parah terjadi di Swiss yang tidak mempunyai pelabuhan; di sana kelaparan menyebabkan pemerintah mengumumkan keadaan darurat nasional.  Fenomena teramat asing yang diciptakan ledakan gunung api di Indonesia itu membuat perhitungan strategi dan taktik perang di Eropa meleset. Di Waterloo, Napoleon memutuskan untuk mengundurkan jam serangan, mengharapkan cuaca akan lebih menguntungkan selepas tengah hari. Namun cuaca tetap murung, dan di ambang petang 18 Juni 1815 itu ia terjepit oleh pasukan Sekutu (Inggris-Prussia) dan kalah. Cuaca buruk menjadi penyebab utama kekalahannya. Napoleon tidak berhasil menghimpun semua kekuatan pada waktunya. Jumlah pasukannya kalah besar ketimbang pasukan lawan yang sudah lebih dulu siap. Tanah yang belum kering (oleh salju), menjadi becek oleh guyuran hujan di luar musim. Roda roda kereta penghela meriam terjebak lumpur. Komunikasi tak bisa dijalin cepat, konsolidasi pasukan lambat. Infantri dan kavalerinya bergerak terseok-seok. ” Perang 100 hari” yang disiapkannya, begitu lolos dari Elbe, berakhir di desa di tanah rendah Belgia itu. Era Napoleon pun tamat. Inggris yang menduduki Indonesia mengembalikan kekuasaannya ke Belanda, sekutunya dalam perang Eropa.

Badai yang hebat, curah hujan yang tidak normal, dan banjir di sungai-sungai utama Eropa (termasuk Sungai Rhein dihubungkan dengan peristiwa ini. Demikian pula dengan frost yang terjadi pada Agustus 1816.

Pada Juli 1816, kegelapan yang menyelimuti Bumi, “hujan yang tak henti-henti” pada “musim panas yang basah dan tidak bersahabat” memaksa Mary Shelley,  John William Polidori dan teman-teman mereka tetap diam di dalam rumah selama liburan mereka di Swiss. Peristiwa tersebut, menginspirasi novel-novel misteri legendaris misalnya, 'Darkness' atau 'Kegelapan' karya Lord Byron, 'The Vampyre' atau 'Vampir' karya Dr John Palidori dan novel 'Frankenstein' atau Prometheus Modern karya Mary Shelley.

Jumlah debu yang sangat tinggi di atmosfer menyebabkan senja yang sangat luar biasa spektakuler pada periode ini, sebuah suasana yang menjadi terkenal dalam lukisan-lukisan J.M.W. Turner. (Sebuah fenomena serupa dicatat setelah letusan Krakatau pada 1883, dan di pantai barat Amerika Serikat setelah letusan Gunung Pinatubo pada 1991 di Filipina.)

Sebuah film dokumenter BBC yang menggunakan angka-angka yang dikumpulkan di Swiss memperkirakan bahwa tingkat kematian pada 1816 itu dua kali lipat daripada rata-rata tahun yang lain, dan memberikan angka kematian seluruhnya berjumlah 200.000 orang.

Teori sebab-akibat
Pada saat itu, tak seorangpun tahu apa yang menyebabkan kondisi-kondisi yang menyimpang  pada 1816. Salah satu kambing hitamnya adalah Benjamin Franklin, yang eksperimen-eksperimennya dengan kilat dan listrik konon telah menimbulkan perubahan cuaca. Belakangan, orang menunjuk pada aktivitas bercak matahari, atau sekadar pada kebetulan belaka sebagai kemungkinan penyebabnya.

Ahli iklim Amerika, William Humphreys, pertama kali mengemukakan pendapatnya pada 1920 bahwa tahun tanpa musim panas itu kemungkinan telah disebabkan oleh aktivitas vulkanik. Penjelasannya diilhami sebagian oleh risalat yang ditulis oleh tak lain daripada Benjamin Franklin. Franklin mempersalahkan musim panas yang dingin pada 1783 itu pada debu vulkanik yang berasal dari letusan Laki di Islandia. Menurut kabar, letusan Gunung Laki tersebut menewaskan 9,350 jiwa. Letusan ini menewaskan 25% dari populasi yang terjadi pada bulan June 1783

Dampak budaya
Kerajaan Sanggar, sebagai salah satu dari tiga kerajaan besar di P. Sumbawa tinggal sejarah, dan untuk akhirnya wilayahnya diambil alih oleh kerajaan Bima. Ekspedisi penggalian kembali bekas-bekas kerajaan Sanggar yang tertutup abu vulkanik puluhan meter mendapatkan banyak artefak dan peninggalan sejarah.
University of Rhode Island - Artifacts found during the Tambora excavation.
Artefak yang ditemukan saat penggalian di Tambora
Klik gambar untuk melihat


Bagaimana letusan Gunung Tambora jika dibandingkan dengan letusan gunung berapi lainnya?
Nah, sekarang kita tahu betapa supernya letusan Gunung Tambora. Jika dibandingkan dengan letusan Gunung Eyjafjallajokull di Islandia pada Sabtu 24 April 2010, letusan Gunung Eyjafjallajokull tidak ada apa-apanya dibandingkan letusan Gunung Tambora.
Letusan Gunung Eyjafjallajokull di Islandia menyemburkan abu vulkanik yang memusingkan dan mengacaukan lalu lintas udara Eropa. Ribuan penumpang tertahan di bandara, perekonomian terganggu, barang-barang komoditas pertanian membusuk karena tak bisa dikirim.  Sedangkan letusan Gunung Tambora, abu vulkaniknya, selain mematikan, mengubah cuaca dunia, bahkan mengubah sejarah.

Badan Geologi Amerika Serikat atau US Geological Survey bahkan menobatkan letusan Tambora sebagai "yang terkuat sepanjang sejarah".  Letusan Tambora bahkan lebih dahsyat dari Krakatau. Untuk mengetahui dahsyatnya letusan gunung berapi, maka muncullah Volcanic Explosivity Index (VEI), indeks letusan gunung yang mirip skala Richter untuk mengukur kekuatan gempa.

Perhitungan VEI ada pada skala 1 hingga 8, setiap satu angka adalah 10 lebih besar dari sebelumnya. Tambora ada di level tujuh, Krakatau enam. Ini berarti Tambora lebih kuat 10 kali lebih besar dari letusan Krakatau.

Bagaimana letusan Gunung Eyjafjallajokull di Islandia? Level VEI-nya hanya dua atau tiga. Atau 10.000 kali lebih lemah dari Tambora.

Letusan Eyjafjallajökull 'saja' bisa mempengaruhi atmosfer dan membuat dunia penerbangan kalang kabut.

Tak terbayang jika Tambora meletus di era ini. Seperti meriam raksasa, tambora menyemburkan abu, debu, dan setidaknya 400 juta ton gas sulfur ke udara, hingga 27 mil tegak lurus ke strastofer, jauh di atas awan cuaca.

Catatan lain:
Year Without Summer (2004), itulah film dari kisah di atas. Tapi, saya tidak yakin kalau film ini ada. Saya mencari di internet sulit mencari info penyedia untuk download film tersebut. Paling tidak mengetahui jalan/alur ceritanya bagaimana. Beneran gak ya difilmkan?
Jika Anda berkunjung ke cicadafilms.com, mungkin Anda akan menemukan jejak film tersebut. Tapi, menurut saya kurang jelas, karena hanya menjelaskan bahwa film tersebut meraih penghargaan.  Berikut keterangan di situs tersebut:

-------Year Without Summer---------
Almost two hundred years ago, on April 10th 1815, Mount Tambora in Eastern Indonesia became a merciless killer. It unleashed the most deadly volcanic eruption in human history, wiping out at least 117,000 people. And the killing didn’t stop there.  Now considered the most violent volcanic eruption in 10,000 years, it is believed that this blast could have triggered an extraordinary and little known cataclysmic event: worldwide climate change. Horrific details of this sinister human disaster are coming to light for the first time.
Finalist, Best Earth Sciences Award Jackson Hole Wildlife Film Festival, USA
Finalist, 18th International Mountain & Adventure Film Festival, Graz, Austria
Finalist, Earth Science Award Wildscreen 2006, Bristol, UK
BBC 2 / Discovery / National Geographic Channel / NDR, 2005
1 x 60'

Diolah dari sumber-sumber berikut:

No comments:

Post a Comment

Post a Comment